Senyap

Malam gamang,

sedu,

sedan.

 

di tirah, meratup segan.

 

malam-malam, siang-siang

apa sisa dari bunyi, riang?

jika kasih remuk di ufuk labia,

merekah di candu dan usia,

 

maka dua ‘nusia menyesap:

kerontang suara dan lelap

sisa-sisa,

rasa dan nama-nama.

 

kasih macam apa yang;

tak sebelah bertepuk saja?

 

  • Jogjakarta, Agustus Dua Ribu Tujuh Belas.
Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

‘Allelujah! Don’t Bend! Ascend!

Januari 12, 1992

Krodha,

Kasih macam apa yang bisa kita dapati di tengah kota yang memupuk geram di benak para pejalan kaki, tukang koran, dan pohon trembesi? Maka terkutuklah semua jenis peradaban yang menghamba kepada massifikasi papan iklan, kooptasi keramahan Keynesian, politik pasar iklan, dan kamuflase ketahanan pangan. Oh, cinta mana yang bisa dicurahkan di atas rimba totem beton, panji-panji teatrikal marketing, dan kerumunan mamalia yang meneruskan rasionalitas tanda-tanda?

Krodha, Mari kita tabus satu perahu kayu.

Lalu kemudian mendayung ke balik teluk. Bersamaan dengan gelombang yang memberi bunyi kepada buih, dan tilam bagi tahun-tahun manusia. Agar supaya lalu, kita tenggelam; Mati, Membiru; Jadi cerita atau legenda yang tanpa kata-tanpa suara.

Atau salah satunya, atau keduanya. Karena kasih macam apa yang meminta pertanda kepada makna?

-Temperantia

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Asunder, Sweet and Other Distress

Loka, 12 Kewulu Sadayatana,

Kama, apabila kelak, malam terlalu cepat datang memberikan pagi; apa-apa yang engkau kehendaki, maka berikanlah semua-muamu. Karena apa yang memberi bangkai kepada padi, selain bulir hujan yang melauti ladang-ladang? Sehingga helaimu yang ranum memberikan nadinya kepada angin; Kepada pasang, kepada gelombang di tubir-tubir tembok madar.

Apabila kelak, pagi terlalu cepat datang memberikan hari; apa-apa yang engkau ingini, maka serahkanlah semua-muamu. Karena apa yang memberi sunyi kepada riuh-rendah, selain hutan yang merimbuni alang-alang? Sehingga akarmu yang semerbak memberikan nyawanya kepada api; kepada bara, kepada nyala di gulung-gemulung gabar.

Kama, kelak, segala melambat, tiada memberi; apa-apa yang pernah kita ketahui tentang keinginan, maka mari, kita telisik lagi tentang apa itu keinginan, tentang apa itu kehendak.Karena Kasih macam apa yang mampu lahir dari ketiadaan ragu?

Mari kita, sama-sama, memberi tempat kepada rahim, untuk melahirkan ragu demi ragu; batu dan wahyu.

– Castitas.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Mendekati Teru: solum, voda un aria

moro

Teru tak bisa didengarkan, Teru bukan musik, Teru adalah puisi-manifesto yang berbunyi.

Pada tahun 1897, Alphonse Allais, penulis asal Perancis menuliskan sepotong komposisi musik berisi dua puluh empat bar keheningan berjudul Funeral March for the Obsequies of a Great Deaf Man. Lima puluh lima tahun kemudian, John Cage ‘seakan’ melanjutkan apa yang dilakukan Allais, dengan merilis karyanya yang ‘monumental’ yang berjudul 4’33; ‘keheningan’ tiga babak yang berlangsung selama empat menit, tiga puluh tiga detik. Yang dilakukan Cage selama itu, hanya duduk diam di depan piano. Suara yang terdengar selama ‘atraksi’ itu berlangsung hanyalah bunyi engsel penutup tuts, timer, dan suara – suara yang berasal dari penonton. Atraksi Cage tadi, bisa dibilang, meruntuhkan pemahaman orang kebanyakan tentang wajah dan rupa komposisi musik.

Memaknai Teru, kalau boleh dibilang seperti itu, adalah langkah selanjutnya dari komposisi 4’33 oleh Cage tadi. Andaikata, kita menganggap Cage berada pada titik 0 (nol), maka Teru menyeret kita untuk beranjak dari sana, ke titik -1 (minus satu).  Hal pertama yang harus diruntuhkan adalah pemahaman, yang mana lebih banyak didominasi oleh ekspektasi terhadap sebuah musik (mainstream). Menarik diri untuk tercerabut dari ruang – ruang yang telah kita tempati.

Teru bersama semua lagunya yang berada di album ini, mewujud dalam sebuah tanda dan penanda sekaligus; perihal musik, sejarah, identitas, dan realitas yang tumpang tindih dalam diri seorang manusia yang Maluku. Manusia (Maluku) yang mengapung di tengah sejarah yang jauh dari dirinya; Identitas yang semakin sayup, seperti bunyi denyut di sepanjang lagu Sufe. Namun, di tengah kebingungan tadi, titik-titik terang masih sering muncul, walau bunyinya terdengar lebih sayup-sayup dan muncul secara tak diduga-duga. Lagu Sufe, membuka album dengan sangat indah dan membingungkan sekaligus. Sufe adalah pintu yang nantinya akan membawa kita ke dua ruang yang berbeda mengenai bagaimana kita ‘berhadapan’ dengan lagu – lagu (atau lebih tepat disebut mantra?) selanjutnya di album ini nantinya (Moro, Sanas, Tonaka, dan Gebuse); lewat wajah Terang atau Gelap.

Jika memang –dengan sangat terpaksa-  harus menempatkan Teru dalam konstelasi genre musik, maka, mungkin, Teru berada selangkah di depan Krakatau (Rhytm of Reformation), di ruang yang bersebelahan dengan Petri Kuljuntausta (Momentum) dan Godspeed You! Black Emperor, namun reflektif tapi tidak sesamar Cage (4’33).

Sekali lagi, Teru bukanlah pengalaman mendengarkan musik. Teru mungkin akan terasa sangat membingungkan jika harus didekati dengan cara seperti itu. Teru tak bisa didengarkan, Teru adalah pengalaman. Teru, sadar tidak sadar, telah memberi tanda dalam peta sejarah musik Indonesia dengan menawarkan sebuah pendekatan baru lewat bunyi terhadap kultur, budaya, dan sejarah sekaligus.

Tanbihat 1: Sengaja tidak mau menulis tentang lagu-lagu lain yang ada di album ini. Bukan karena tidak mau, tapi, pada keadaan tertentu, hal itu bisa memenjarakan makna dari lagu-lagu tersebut. Teru, secara pribadi, adalah suatu pengalaman reflektif-subjektif.

Tanbihat 2: Kepada Teru, untuk sementara, tulisan dulu. Belum ada peralatan memadai untuk mengambil gambar, pak! Maklum, di kampung, musim bercocok-tanam. Hiks.

– Jogjakarta, Dua ribu enam belas.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jembatan

Anak-anak, melompat dari jembatan
Ini bukan soal kepala angin,
atau gila-gila,
atau mongo-mongo:

Anak-anak, melompat dari jembatan terpanjang yang
di timur dunia

Melompat dari jembatan simbolik yang
megah dan memberikan kebanggan kepada
gerombolan pecinta lambang-lambang yang dahaga.

Anak-anak, melompat dari jembatan,
jadi perlawanan,
jadi nyali lawan angin dan teluk
tinggi dan remuk

Anak-anak melompat di teluk
bikin rubuh patung-batu-pujaan (yang panjang, yang besar katanya)
betapa titian beton konstruksi Wika itu, jadi macam batu capeu.
tak jadi menakutkan, tidak lagi.

patung-batu-pujaan kini pelan-pelan gugur,
sebelum nanti, ia membikin tukang panggayo perahu Galala-Poka mati.

Oh, sang mahadewa Merah-Putih, malumu kini.

 

Teluk Ambon, April 2016

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Chronicles

Novembra Krastmala-Doma Laukums, Latvia, Januari 1980,

 
 
 

Kelahiran adalah suatu yang ditunggui dengan debar-debar oleh orang tua, namun gairah bagi sang anak.

Dan kepadamu, William Thomas, yang sedari jauh hari telah menunggu ini dengan rasa penasaran mengenai apa itu hidup, kutuliskan ini padamu,

Alangkah tenangnya mereka yang tak pernah dilahirkan, alangkah indahnya mereka yang pernah dilahirkan. Menghidupi hidup yang begitu manusiawi. Berdaging dan rohani. Menjalani. Menjala-lah kepada hidup yang disertai hujan api dan batu. Untuk kemudian mengucilkan manusia-manusia ke dalam tabung berselubung tanya. Tentang perih dan makna. Maka, hidupilah hidup yang kau punya, sebagai pelaut yang tak pernah mempertanyakan gelombang laut dan pergeseran bintang yang diam-diam bersekongkol dengan musim.

Tumbuhlah seperti yang sudah kau lakukan sebagai janin. Untuk kemudian menjadi anak. Menjadi bocah yang terperangah oleh macam-macam. Burung belibis yang beterbangan di ujung teluk, api yang berkobar dalam kemuraman yang menyala; meminta takjub dan cinta.

Maka jalanilah lautanmu sebagai orok yang meninggi. Menikmati masa-masa awal yang penuh pengalaman-pengalaman magis. Kau kan mengenangnya pada suatu saat nanti. Kecaplah masa ini, karena tak ada yang lebih tinggi nilainya bagimu, selain permainan dan benda-benda. Masa kanak, bagi sebagian makhluk, adalah sisa-sisa surga bagi manusia. Kenang, kenangkanlah. Karena semua akan berlalu pada akhirnya.

Sampai kau mulai menyadari, bahwa bumi tak seutuhnya bola, dan dalam derap jantungmu yang meluapkan kesenangan di kala pagi buta. Kau bangun dan begegas, menciumi kemeja putih dan celana pendek merah yang sudah disetrika sebelumnya. Kau tak sabar, berlarian ke sana. Menyerahkan dirimu kepada tangan-tangan bangku dan papan tulis; yang mempesonakan keajaiban-keajaiban, bahasa dan matematik, pertemanan dan benih intrik.

Dan pada masa-masa ini, mulailah kau bertemu dengan perempuan selain ibu. Kau mulai mencari arti kecantikan dan daya tarik primitif, degup jantung kecilmu yang belajar untuk memberontak melawan akal dan kaidah di buku-buku baku. Dan oleh karenanya, kau mulai mencari sekutu. Merangkul teman, menyatukan keinginan akan permainan, dan obrolan-obrolan tentang misteri yang menyelubungi kehidupan manusia dewasa. Namun, dari mereka, kau kan belajar tentang arti kesetiaan dan kepercayaan. Dan itu tak salah.

Sehingga seraya, waktu menelan dengan cepatnya. Menyembunyikan memori-memori. Dan kau tak lagi takjub pada papan tulis dan bangku kayu. Ada rasa yang mencengkram jantungmu keras-keras, seakan menolak untuk membikinmu beranjak; mengganti baju tidur dengan kemeja putih dan celana abu-abu.

Kau sudah dan mulai belajar lagi kini. Silau rangkai-rangkaian bola lampu ilmu mulai meredup satu-satu. Mata dan tekad mulai berkhianat. Namun, keburaman mulai memberikan jelas, kepada apa kau kan menuju. Pada saatnya, kau mulai mengalihkan pandangan-pandangan menjadi rentetan pencarian. Mungkin kau lebih mencintai kata-kata, mungkin pula formula-formula eksakta, kini. Dan di bawah naungan putih-abu seragammu, kau berlajar tentang kawan dan kesetiaan. Sehingga demi itu, kau terobos dinding dan batasan-batasan; pasang badan di hadapan asap rokok dan alkohol –larangan-larangan, pantangan-pantangan. Karena kau tak sabar menunggu dewasa, namun enggan menanggalkan kekanakan.

Dan kau mulai menerima, bahwa kejujuran tak selalu baik, dan dusta tak selalu jahat. Sehingga, kau mulai belajar dalam kecemasan untuk berdusta pada bunda atau aku. Meminta uang untuk urusan sekolah atau menghadiri kelas tambahan yang mungkin tak pernah ada. Tapi kau punya alasan yang kuat untuk melakukannya, dan itu lebih dari sejumput kebenaran.

Cinta mulai mengurai kerumitan pertimbangan dan logika di dalam hatimu. Kau mulai mencoba menerjemahkan perasaan-perasaan ke dalam syair dan lagu-lagu. Siang-malam terenggut oleh gejolak asmara, ditukarnya dengan angan-angan tentang sang primadona. Kau tulisi puisi-puisi padanya, lalu, dengan malu-malu, disampaikan lewat kawan. Menunda makan siang, dan menukarnya dengan penantian. Menanti ia keluar dari gerbang sekolah, hanya supaya kau dapat berjalan sebentar dan bercakap dengan dia, sebelum rumah dan keluarga, merebutnya darimu. Dan kamu, darinya.

Namun, apa daya, tiga tahun berlalu dalam sekejap mata rasanya. Dan kini, dengan kebanggan, kau masuki dunia akademisi. Mulai merubah kebiasaan-kebiasaan. Kebebasan telah ada di tanganmu, dan kau tahu itu. Pertemanan dan loyalitas padanya telah berubah. Kini, dipenuhi tanya dan timbang-tinimbang. Asmara tak lagi bergejolak bak lahar yang meminta dimuntah, karena kau tahu, romantisme tak dapat menjawab semua hal. Maka, kau serahkan jiwa ragamu kepada ide-ide dan faham. Memercikkan suluh baru dalam jiwamu yang menolak patuh.

Jiwamu telah mendewasa, dan sesekali, di benakmu muncul bayang dan pikiran tentang menjadi tua. Kau akan mulai menyesali masa lalu dan mengutuk kebebalan. Namun, itu bukan akhir waktu, karena kau juga tahu, hidup masih harus dijalani dalam muram-durjanannya yang lalim. Kegagalan-kegagalan berubah menjadi paku; yang menancapkan keindahan masa lalu di dinding akal. Ombang-ambing deru ombak penyesalan dan semangat datang silih berganti di pantai jiwamu. Dan pada penghujungnya, kau sadari penuh bahwa tanggung jawab bukan hal yang mudah.

Pekerjaan dan kebutuhan merenggut mimpi-mimpi. Bimbang, dimainkan hidup di buritan kiri dan kanan. Maka untuk memenuhi setiap gugatan, beberapa hal harus kau relakan perginya. Satu-dua mimpi gugur dan mengering jadi tumbal. Dua puluh empat jam terasa begitu cepat, padahal, di kubu hatimu yang lain, kau masih ingin menjelajah bumi dan segala isinya. Kulit hingga tulang. Langit hingga tilam. Permainan demi permainan adalah yang kau rindukan kini. Karena jiwa tak pernah menua dari bocah yang berjuang melawan lupa. Hidup serasa macam belantara, dan kau lagi-lagi tersesat di dalamnya. Lalu, terlintas dalam pikirmu, untuk membangun sebuah gubuk di tengah unggunan rimba raya ini.

Kau nikahi ia, perempuan yang kau ingini dengan cinta dan pertimbangan-pertimbangan.

Maka dari pelosok jiwamu, terbitlah romansa-romansa. Jadi penawar bagi akal yang aus dan letih di kancah perang individu melawan massa. Ego dan kuasa. Dan kau pikir dan putuskan, bahwa pernikahan adalah antidot yang tepat. Menebarkan bulir-bulir mawar di pungguk peraduan. Bercinta-cintalah, karena kegilaan-kegilaan adalah jawaban bagi setiap kepatuhan.

Bahtera baru yang kau bangun kini pada akhirnya tak luput dari terjangan gelombang; stagnan – kebosanan. Dan anak adalah tujuan yang baik untuk itu. Sehingga kau punya alasan yang baik untuk tak lagi meliuk mengikuti arah angin, karena tahu kini, sauh telah dipancangkan, dan geladak harus teduh di labuhan –sekeras apapun laut menghantam.

Kemudian, terbitlah matahari baru bagimu, dan semua yang telah kau lalui, sesali dan amini, kutuki dan cintai, lenyap. Karena umur panjang dan keabadian kini adalah yang kau doakan, agar pada saatnya nanti, kau bisa tuliskan surat macam ini padanya. Karena hidup, adalah sengkarut yang mengamuk, mengejawantahkan manusia pada satu sumbu yang kan’ redup hanya oleh usia; Petualangan tanpa tanding.

 

 

 

Ayahmu yang begitu jauh darimu,

Frederik Ferdinan Levi

 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

Posted in Uncategorized | Tagged | 1 Comment

Kings

Ambon, 5 Mei 2005

 
 
Kepada, William Thomas,
 
Entah kamu mengingatku atau tidak. Jika demikian, maka tentu sore itu, di pelataran gereja Rehobot tak kau lupa. Kita sempat bertemu mata. Walau kemudian, aras pandangmu tak lagi menyentuhku, maka berlainan aku.
 
Aku masih menatapmu lekat setelahnya. Maka sebutlah ini tanya. Namun, ada racun manis yang menyeretku ke kedalaman bola yang hitam pekat, bertatahkan cahaya berkilau-kilau. Seakan memenjarakan rahasia dan keriangan yang muncul. Lalu di waktu yang lain, ia tenggelam.
Atau, aku tersesat di lajur rambutmu hitammu yang menebal. Yang pada lain hari, menghempaskan aku untuk meluncur turun di sudut relung pelipismu. Namun, siapa aku? Sementara menatap matamu saja, menengadah aku pada jenjangmu.
 
Maka, sebutkanlah ini kedegilan akal yang tak aku ketahui. Dan kekacauan ini, telah kutitipkan kepada sang kostor.
 
Aku berdoa kepada Tuhan, supaya di saat surat ini kau terima. Aku tidak sedang berada di dekatmu.
 
Kelu dan malu aku.
 
 

Dessy Margaretha Geertruida

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment