Chronicles

Novembra Krastmala-Doma Laukums, Latvia, Januari 1980,

 
 
 

Kelahiran adalah suatu yang ditunggui dengan debar-debar oleh orang tua, namun gairah bagi sang anak.

Dan kepadamu, William Thomas, yang sedari jauh hari telah menunggu ini dengan rasa penasaran mengenai apa itu hidup, kutuliskan ini padamu,

Alangkah tenangnya mereka yang tak pernah dilahirkan, alangkah indahnya mereka yang pernah dilahirkan. Menghidupi hidup yang begitu manusiawi. Berdaging dan rohani. Menjalani. Menjala-lah kepada hidup yang disertai hujan api dan batu. Untuk kemudian mengucilkan manusia-manusia ke dalam tabung berselubung tanya. Tentang perih dan makna. Maka, hidupilah hidup yang kau punya, sebagai pelaut yang tak pernah mempertanyakan gelombang laut dan pergeseran bintang yang diam-diam bersekongkol dengan musim.

Tumbuhlah seperti yang sudah kau lakukan sebagai janin. Untuk kemudian menjadi anak. Menjadi bocah yang terperangah oleh macam-macam. Burung belibis yang beterbangan di ujung teluk, api yang berkobar dalam kemuraman yang menyala; meminta takjub dan cinta.

Maka jalanilah lautanmu sebagai orok yang meninggi. Menikmati masa-masa awal yang penuh pengalaman-pengalaman magis. Kau kan mengenangnya pada suatu saat nanti. Kecaplah masa ini, karena tak ada yang lebih tinggi nilainya bagimu, selain permainan dan benda-benda. Masa kanak, bagi sebagian makhluk, adalah sisa-sisa surga bagi manusia. Kenang, kenangkanlah. Karena semua akan berlalu pada akhirnya.

Sampai kau mulai menyadari, bahwa bumi tak seutuhnya bola, dan dalam derap jantungmu yang meluapkan kesenangan di kala pagi buta. Kau bangun dan begegas, menciumi kemeja putih dan celana pendek merah yang sudah disetrika sebelumnya. Kau tak sabar, berlarian ke sana. Menyerahkan dirimu kepada tangan-tangan bangku dan papan tulis; yang mempesonakan keajaiban-keajaiban, bahasa dan matematik, pertemanan dan benih intrik.

Dan pada masa-masa ini, mulailah kau bertemu dengan perempuan selain ibu. Kau mulai mencari arti kecantikan dan daya tarik primitif, degup jantung kecilmu yang belajar untuk memberontak melawan akal dan kaidah di buku-buku baku. Dan oleh karenanya, kau mulai mencari sekutu. Merangkul teman, menyatukan keinginan akan permainan, dan obrolan-obrolan tentang misteri yang menyelubungi kehidupan manusia dewasa. Namun, dari mereka, kau kan belajar tentang arti kesetiaan dan kepercayaan. Dan itu tak salah.

Sehingga seraya, waktu menelan dengan cepatnya. Menyembunyikan memori-memori. Dan kau tak lagi takjub pada papan tulis dan bangku kayu. Ada rasa yang mencengkram jantungmu keras-keras, seakan menolak untuk membikinmu beranjak; mengganti baju tidur dengan kemeja putih dan celana abu-abu.

Kau sudah dan mulai belajar lagi kini. Silau rangkai-rangkaian bola lampu ilmu mulai meredup satu-satu. Mata dan tekad mulai berkhianat. Namun, keburaman mulai memberikan jelas, kepada apa kau kan menuju. Pada saatnya, kau mulai mengalihkan pandangan-pandangan menjadi rentetan pencarian. Mungkin kau lebih mencintai kata-kata, mungkin pula formula-formula eksakta, kini. Dan di bawah naungan putih-abu seragammu, kau berlajar tentang kawan dan kesetiaan. Sehingga demi itu, kau terobos dinding dan batasan-batasan; pasang badan di hadapan asap rokok dan alkohol –larangan-larangan, pantangan-pantangan. Karena kau tak sabar menunggu dewasa, namun enggan menanggalkan kekanakan.

Dan kau mulai menerima, bahwa kejujuran tak selalu baik, dan dusta tak selalu jahat. Sehingga, kau mulai belajar dalam kecemasan untuk berdusta pada bunda atau aku. Meminta uang untuk urusan sekolah atau menghadiri kelas tambahan yang mungkin tak pernah ada. Tapi kau punya alasan yang kuat untuk melakukannya, dan itu lebih dari sejumput kebenaran.

Cinta mulai mengurai kerumitan pertimbangan dan logika di dalam hatimu. Kau mulai mencoba menerjemahkan perasaan-perasaan ke dalam syair dan lagu-lagu. Siang-malam terenggut oleh gejolak asmara, ditukarnya dengan angan-angan tentang sang primadona. Kau tulisi puisi-puisi padanya, lalu, dengan malu-malu, disampaikan lewat kawan. Menunda makan siang, dan menukarnya dengan penantian. Menanti ia keluar dari gerbang sekolah, hanya supaya kau dapat berjalan sebentar dan bercakap dengan dia, sebelum rumah dan keluarga, merebutnya darimu. Dan kamu, darinya.

Namun, apa daya, tiga tahun berlalu dalam sekejap mata rasanya. Dan kini, dengan kebanggan, kau masuki dunia akademisi. Mulai merubah kebiasaan-kebiasaan. Kebebasan telah ada di tanganmu, dan kau tahu itu. Pertemanan dan loyalitas padanya telah berubah. Kini, dipenuhi tanya dan timbang-tinimbang. Asmara tak lagi bergejolak bak lahar yang meminta dimuntah, karena kau tahu, romantisme tak dapat menjawab semua hal. Maka, kau serahkan jiwa ragamu kepada ide-ide dan faham. Memercikkan suluh baru dalam jiwamu yang menolak patuh.

Jiwamu telah mendewasa, dan sesekali, di benakmu muncul bayang dan pikiran tentang menjadi tua. Kau akan mulai menyesali masa lalu dan mengutuk kebebalan. Namun, itu bukan akhir waktu, karena kau juga tahu, hidup masih harus dijalani dalam muram-durjanannya yang lalim. Kegagalan-kegagalan berubah menjadi paku; yang menancapkan keindahan masa lalu di dinding akal. Ombang-ambing deru ombak penyesalan dan semangat datang silih berganti di pantai jiwamu. Dan pada penghujungnya, kau sadari penuh bahwa tanggung jawab bukan hal yang mudah.

Pekerjaan dan kebutuhan merenggut mimpi-mimpi. Bimbang, dimainkan hidup di buritan kiri dan kanan. Maka untuk memenuhi setiap gugatan, beberapa hal harus kau relakan perginya. Satu-dua mimpi gugur dan mengering jadi tumbal. Dua puluh empat jam terasa begitu cepat, padahal, di kubu hatimu yang lain, kau masih ingin menjelajah bumi dan segala isinya. Kulit hingga tulang. Langit hingga tilam. Permainan demi permainan adalah yang kau rindukan kini. Karena jiwa tak pernah menua dari bocah yang berjuang melawan lupa. Hidup serasa macam belantara, dan kau lagi-lagi tersesat di dalamnya. Lalu, terlintas dalam pikirmu, untuk membangun sebuah gubuk di tengah unggunan rimba raya ini.

Kau nikahi ia, perempuan yang kau ingini dengan cinta dan pertimbangan-pertimbangan.

Maka dari pelosok jiwamu, terbitlah romansa-romansa. Jadi penawar bagi akal yang aus dan letih di kancah perang individu melawan massa. Ego dan kuasa. Dan kau pikir dan putuskan, bahwa pernikahan adalah antidot yang tepat. Menebarkan bulir-bulir mawar di pungguk peraduan. Bercinta-cintalah, karena kegilaan-kegilaan adalah jawaban bagi setiap kepatuhan.

Bahtera baru yang kau bangun kini pada akhirnya tak luput dari terjangan gelombang; stagnan – kebosanan. Dan anak adalah tujuan yang baik untuk itu. Sehingga kau punya alasan yang baik untuk tak lagi meliuk mengikuti arah angin, karena tahu kini, sauh telah dipancangkan, dan geladak harus teduh di labuhan –sekeras apapun laut menghantam.

Kemudian, terbitlah matahari baru bagimu, dan semua yang telah kau lalui, sesali dan amini, kutuki dan cintai, lenyap. Karena umur panjang dan keabadian kini adalah yang kau doakan, agar pada saatnya nanti, kau bisa tuliskan surat macam ini padanya. Karena hidup, adalah sengkarut yang mengamuk, mengejawantahkan manusia pada satu sumbu yang kan’ redup hanya oleh usia; Petualangan tanpa tanding.

 

 

 

Ayahmu yang begitu jauh darimu,

Frederik Ferdinan Levi

 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

Posted in Uncategorized | Tagged | 1 Comment

Kings

Ambon, 5 Mei 2005

 
 
Kepada, William Thomas,
 
Entah kamu mengingatku atau tidak. Jika demikian, maka tentu sore itu, di pelataran gereja Rehobot tak kau lupa. Kita sempat bertemu mata. Walau kemudian, aras pandangmu tak lagi menyentuhku, maka berlainan aku.
 
Aku masih menatapmu lekat setelahnya. Maka sebutlah ini tanya. Namun, ada racun manis yang menyeretku ke kedalaman bola yang hitam pekat, bertatahkan cahaya berkilau-kilau. Seakan memenjarakan rahasia dan keriangan yang muncul. Lalu di waktu yang lain, ia tenggelam.
Atau, aku tersesat di lajur rambutmu hitammu yang menebal. Yang pada lain hari, menghempaskan aku untuk meluncur turun di sudut relung pelipismu. Namun, siapa aku? Sementara menatap matamu saja, menengadah aku pada jenjangmu.
 
Maka, sebutkanlah ini kedegilan akal yang tak aku ketahui. Dan kekacauan ini, telah kutitipkan kepada sang kostor.
 
Aku berdoa kepada Tuhan, supaya di saat surat ini kau terima. Aku tidak sedang berada di dekatmu.
 
Kelu dan malu aku.
 
 

Dessy Margaretha Geertruida

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Sop Kap Kutnu Sinam Malas

Hai Mardiana ( a.k.a @dentswp ),

Jadi kira-kira, beginilah pembalasanku;

Mardiana, aku sedang berusaha mengingat-ingat. Tapi, entah kenapa, yang muncul di kepalaku adalah Marsinah. Kamu kenal Marsinah? Buruh perempuan yang mati dibunuh pada zaman Dinosaurus masih memimpin negara. Maka dari itu, mari kita berbicara tentang Marsinah. Tapi tidak usah sebenarnya, karena ini surat balasan untukmu.

Jadi, aku harus menulis apa? Ah tidak. Ini sudah menulis banyak. Kemarin, aku sudah baca suratmu yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia itu. Mari kita berkenalan seperti biasa. Tapi tunggu, Berkenalan berdasar pada kata ‘kenal’. Tapi kita baru sampai di tahap mention-mentionan. Sedangkan kenal itu -seharusnya- lebih luas daripada itu.

Jadi sebelum kita saling mengenal. Ada yang mengganjal: Aku belum mengenal diriku sendiri! Siapa aku ini?

Akan tetapi, aku harapkan, kamu sudah mengenal dirimu sendiri.

Ah, dan soal surat-surat. Semoga kamu tak lelah menulis surat, tapi terlebih, tak lelah melakukan lebih dari apa yang sudah surat-suratmu sampaikan.

Jangan takut perkara tukang pos-mu kecapaian. Dia punya kekuatan gaib di dalam dirinya, bahkan di rumahnya pun ada kandang kecil (ditempeli label: The Sims 4 di jidat kandang) berisi makhluk astral. Jadi, kamu jangan kapok menulis surat. Teruslah menulis, sampai orang lain yang harus.

 

Jadi, kamu sibuk tidak? Bisa temani aku ke pasar, beli dupa dan bahan ritual?

Ah, satu lagi; Kita sudah saling kenal kan, sekarang?

 

– Petani yang gemar melaut, sedang menyambi menjadi tukang pos, @Mungaremike

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Samuel

Ambon, Sore hari-Perigi Lima, April 2005
 
 
 
Mama, yang kukasihi,
Beberapa hari telah lalu, lahan tuk bertanam di samping rumah sudah kusemai. Setengah urus-urusan mengenai pelayanan yang kudus telah tunai.
 
Aku menyurati, dari depan kios kecil di samping tempatku tinggal. Menengadahkan muka pada senja yang luntur pelan-pelan di dinding langit barat. Bersama riuh-rendah mobil yang berseliweran. Berhiaskan teriakan kondektur yang rebut-rebutan memanggil penumpang. Sejurus tadi, penjaja panganan lewat; dengan wangi sukun, singkong, dan pisang goreng. Tertutup sarbet putih di atas nampan besi yang ditembusi minyak goreng di beberapa tempat, dijual seribu rupiah-satunya, dan sambal sebagai pelengkap, diberikan cuma-cuma.
 
Ada juga anak-anak lewat, sepertinya dari Silale –tempat di dekat sini. Lengkap dengan kostum sepakbola mancanegara. Warna-warni macamnya. Sambil menendang-tendangkan bola plastik. Melintas menuju depan sekolah yang tak jauh dari aku. Adalah hal yang biasa, ketika matahari sore telah lemah menerik. Para pemuda Silale itu, datang ke sini, lalu bersama dengan pemuda-pemuda Perigi Lima, bermain bola. Tidak ada lapangan, mama. Biasanya mereka bermain di atas aspal. Yang oleh karenanya, jika ada kendaraan yang hendak lewat, maka permainan haruslah dihentikan barang sejenak. Tapi, permainan sore biasanya ramai sekali. Mereka bermain berganti-gantian. Tim yang gawangnya dijaringkan bola, harus keluar dan digantikan yang lainnya. Lima lawan lima, biasanya. Permainan yang asik sekali. Ramai. Tawa dan maki kadang terdengar, tapi itu bukan masalah, mama. Yang baik adalah, mereka berbeda agama. Tapi tidak, aku tak melihat sisa-sisa konflik di atas aspal yang diapit gawang yang dibuat dari tumpukan batu itu. Hanya tawa dan kesenangan darinya. Dan permainan mereka akan dihentikan dengan lambaian tangan dan janji untuk bermain kembali di esok hari, dengan adzan maghrib serta matahari yang sayup-sayup sebagai penanda waktu berhenti.
 
Kemudian, malam berganti. Jalanan akan menyepi, lampu-lampu jalan mengganti, menyebarkan cahaya kuning muram di atas wajah jalanan. Kendaraan yang lewat hanya sesekali, dan tukang-tukang becak akan datang, berkumpul, lalu bercengkrama sambil meminum kopi. Keramaian hampir dapat kusebut tiada. Hanya sesekali, bunyi dari toa kantor polres di seberang jalan bersuara; memberikan aba-aba, yang kemudian disusul derung mesin. Dan jika, warga tak mengadu kepada, maka demikianlah heningnya sampai pagi berganti kembali. Dan ini waktu dimana aku membaca atau merenung-renungkan.
 
Kuceritakan panjang lebar, sebisanya, agar mama tak berwalang hati.
Ambon, tak semengerikan itu.

 
 
Anakmu, William Thomas.

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Ruth

Ambon, Perigi Lima, April 2005

 
 
 

Kamerad Mulyanto,

Jangan. Jangan robek buku, kawan!

Tidak. Tidak arang terpisah dari bara, kawan!

 
 

Sebelum mulai kau bersabda tentang utopia dan semerbak angan-angan, maka izinkanlah aku memberi saran padamu; mungkin baiknya kita murnikan dulu mata air yang nantinya memancar, yang kemudian akan kita tebarkan ke segala penjuru. Sehingga pada waktu Tuhan, telapak kaki tak lagi gemetar di pelipis air dan gelora debur menghantam tubir.

Beberapa hari belakangan kuhabiskan dengan membersihkan lahan dan meleraikan bibit sayur di samping rumah. Dan ketika pagi, dipuaskanlah hatiku, melihat lalu-lalang orang-orang serta kendaraan. Melintas dalam seragam. Dalam keragaman suka cita kanak-kanak dan muram tukang-tukang becak. Terkantuk-kantuk.

Pula, berkenalan aku dengan lelaki setengah umur. Pemilik warung kecil yang berdiri dengan susah payah di tiga per empat trotoar. Nyaris tepat di depan tempatku tinggal. Perantau yang melintasi laut, Buton menuju Ambon. Yang telah menghabiskan waktu hidupnya di sini dengan berjualan rokok, kopi, dan remeh-remeh. Sesekali, jadilah ia mafia kasino level ikan teri kering; bagian belakang warung diam-diam dijadikan meja judi -bagi tukang becak dan masyarakat kelas bawah minim rekreasi. Asal kau tahu, kawan, kasino itu jaraknya tak sampai lima puluh meter dari pagar kantor polisi -semacam olok-olok bisu bagi pasukan pengamanan. Andai kau ada di sini dan melihat, girang hatimu kuyakin bukan kepalang.

Tapi mari kita lupakan sejenak soal-soal itu.

Terlintas bagaimana kiranya nanti, ketika berdua kita telah berdiri di atas mimbar. Menatap wajah-wajah jemaat yang sepi dan sendu.

Mungkin saja kawan, aku akan rindu lanskap macam tadi. Namun, aku yang kepada kamu, berharap; dalam kobaran api di dalam dadamu, maka jadilah engkau Father Gapon yang berdiri di depan tembok Narva. Kini dan selama-lamanya.

 
 
 
 

William Thomas
 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

 

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Judges

Jakarta Pusat, Menteng – Pasuruan 24, Maret 2005

 
 
 
William, anakku sayang,
Gamang dan senang datang berganti-ganti.
 
Aku, sebagaimana adanya kamu, diberkati Tuhan dengan segala baik. Kerja dan khutbah di ruang kuliah, sedikit –sedikit memberi kelegaan bagi jiwa yang terhempas iklim yang berbalik arah; Seperti awan dingin yang menebarkan aroma di tengah pancaroba. Semenjak kau di sana. Dan ya, isikanlah waktu dengan segala yang kau anggap baik. Bagi raga dan jiwa-mu.
 
Suasana dan cuaca yang kau sampaikan padaku di sebelum, membikin hati tenang. Setenang arus laut utara Kuba. Dan aku, adalah Santiago tua yang mengapung; Bersama laut yang menyembunyikan gejolak marlin raksasa dan ketidak-pastian – menjejalkan ketakutan pula. Karena anakku yang satu-satunya, harus ada di tengah negeri asing. Bagaimana aku tidak, sementara tahu kau-anakku, menjadi seperti Enkidu yang berhadap-hadapan dengan jurang Shamhat yang menganga. Ibu mana yang tidak gelisah jika?
 
Namun, di tengah pusaran dan ombak. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar dicukupkanlah, engkau. Makan dan tenang, malam dan siang. Bertalian dengan cinta dan doa yang acap kubisikkan, mengepul dari celah tudung kota yang berselimutkan asap dan kemungkaran.
Aku harap, dimanapun engkau, garam dan pelitamu tak menawar dan buncang walau ditiup badai.
 
 
But in an hour of agony,
Pray, speak it, and recall my image,
And say, “He still remembers me,
His heart alone still pays me homage*

 
 
 
Ibumu, yang begitu semua.
Rosemarry Brigita

 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

* Pushkin: What Means My Name to You? (terj. Inggris: I.Zheleznova)

Posted in Uncategorized | Tagged | 1 Comment

Joshua

Indramayu, Lemah Abang – Rajawali 4 , April 2005

 

 

Wahai John Climacus,

LEAP OF FAITH, KAWAN! LEAP OF FAITH!

Andai kau dan aku sekarang sedang berada di kantin kampus seperti biasa dulu. Maka, sudah kurobek Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments di depanmu. Hahaha!

Kawan, kabarku di Indramayu baik sekali. Masih mengurus syarat-prasyarat menjadi gembala tuhan yang sesat. Musim mangga tak memberiku kesempatan, selain harganya yang murah karena kelebihan hasil produksi. Harga tembakau juga, lumayan bisa untuk menemani kopi tanpa label serta dekorasi iklan yang menggenjot harga jual.

Jadi, begitukah dunia timur itu? Sial.

Bahaya ini, kawan. Bahaya! Andai saja waktu itu aku dipilih ke sana, maka matilah aku. Gerakan revolusioner masyarakat tak bisa kutiup di atas ubun orang yang limbung oleh wangi bir dan tuak.

Ada hantu berkeliaran di timur indonesia, dan hantu Kesenangan! –katalisasi tawa, dendam, dan alkohol

Tapi, untunglah bukan aku yang di sana, tapi kamu. Hahahaha!

Andai saja itu aku, sudah pasti nelangsa hatiku. Tapi sama saja kawan dengan di sini. Bedanya, ada dangdut pantura yang aduhai dan tuak oplosan. Hiburan orang-orang pinggiran; Tukang-tukang becak dan penjaja sayuran.

Maka, dengan sekian tahun yang pernah kita habiskan di bangku kuliah itu rasanya percuma. Kadang aku merasa apatis pula. Apalagi nanti, aku (dan juga kau) akan menjadi pendeta. Menggembalakan domba-domba. Memberi minum jemaat dengan mata air surgawi, yang setelah itu, mereka kan kembali ke rumah, untuk berhadap muka dengan kerja, uang, dan tuntutan rumah tangga.

Kira-kira, kan jadi apa kita ini, kawan?

Kabari terus kabarmu bila sempat.

Baik-baiklah di sana.

 

 

Temanmu, Mulyanto.

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

Posted in Uncategorized | Tagged | 1 Comment