Variatio 4. a 1 Clav.

Untuk roh @yellohelle yang khusyuk dalam belai tidur panji merah – hitam,

Mungkin seperti ini ceritanya, matahari tak pernah meminta tuk’ lahir di kala pagi. Dan embun tak berharap keluar dari mulut rahim udara lewat pucuk dedaunan muda di saat yang bersamaan. Demikian pula dengan hujan tulisan yang kupercikkan atasmu ini. Apa itu cinta, apa itu kekaguman? Apa itu surat cinta, dan penegasan lewat tulisan? Untuk beberapa musim, keduanya tak bisa disatukan, dan tak bisa dipisahkan pada musim yang lain. Barangkali, nirwana bagi yang mati. Dan kerinduan padanya atas orang – orang hidup yang takut mati.

Maka biar kujelaskan sekali lagi bahwa kecintaan dan kekaguman yang seperti terik di musim penghujan, kutuju pada dunia yang bukan kamu. Menyelinap di balik hitam bergulung rambut, butir – butir tangis lewat buah tangan karya yang mungkin tak sadari, dan topeng tanah liat bertatahkan nama Edmond Dantes yang sering Kau kenai. Terlebih jika harus kugambarkan akan seperti wajah London di beberapa masa nanti dalam alam mayapada Allan Moore. Tapi Aku jauh dari itu wahai manusia, menelusuk ke dalam kulit bumi, dimana pikiranmu menetap di antara tumpukan buku dalam penjara dinding batu dan semangat tiada kenal aral berbatu. Dan tanpa seorangpun tahu bahwa hujan dan terik bisa bersua di situ. Demikian juga Aku untuk sementara waktu.

Ya, adalah suatu kegilaan dimana anak manusia bisa mencintai buah – buah pikir yang tak kelihatan. Dengan tiada memperdulikan pemiliknya. “Percintaan macam apa itu?” sahutku saat monolog mulai kukumandangkan. Tapi memang, seperti rasa yang kita tahu tak punya tubuh, tapi kuasa. Terkemudian isi kepala bisa merasuk sebagian manusia, sebagian massa.

Dan untuk itulah Aku selalu bersenandung sepi, harap menyadari. Kenapa gigih kugoncangkan kaki – kakimu. Agar roh – roh itu tak jadi sekedar anak – anak. Tak sebentar tegar, sesaat kemudian jatuh bergelimpangan, berpencar.

Tegarlah tubuh yang tak selamanya kekal, dan abadilah pikiran – pikiranmu dengan kekar.

Karena Aku sadari betul bahwa tulisan adalah sebagian kecil dari remah kecintaan, maka baiklah kututup lisan terwakili tulisan ini dengan kalimat sang pengkhianat negaranya sendiri, Multatuli lewat kata – katanya Pramoedya: “Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia.”

Kuat, kuatlah Kau.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s