Variatio 7. a 1 ô vero 2 Clav. al tempo di Giga

Untuk Chopin yang meratap di kaki nisan perasaan,

Ada kibaran api di setiap helai padi yang tumbuh bertumpuk subur. Ada benang – benang air yang lebam ungu dicabik angin jemari leluhur.  Seperti nur dalam jiwamu yang berpendar gelap, bergejolak sebentar, lalu kembali merasuki pucuk helai bunga – bunga pacar menguap, gemerlap. Di kala malam, angkasa terlalu sibuk bertata dalam linang berlian kerlip kecil, dan berlarian orang – orang pandir menyingkir. Dimanakah Kau di kala itu?

Mungkin dalam kesepian yang menjadi – jadi, Aku adalah ketiadaan yang penyendiri. Yang menaklukkan gunung – gunung semerbak bunga lili dan tubuh tumbuh pohon Bodhi.  Ada malaikat bersayap delapan, sesenggukan mengais remah – remah perasaan. Yang bagi Kau dan sebagian orang, hilang  adalah bentuk lain keberadaan. Secarik lirik senandung ditulis dengan air mata, takkan pernah gugur seiring musim yang tak kenal betapa pentingnya segenggam bilah kata. Dimanakah Kau di kala itu?

Atau mungkin kau menjadi roh yang tak rundung kelihatan, tiada asa kuasa lewat patung – patung pahatan.  Meringkuk di balik kuk dengan kata yang tak tertahankan. Pangkuan tahta jati di sudut mati, sekuntum bogenville menunggumu. “Kehidupan ini mungkin beberapa butir sajak satir. Dan ketiadaan menanti untuk ditelanjangkan di akhir” katanya. Ragu, menjadi bangkai dalam kelu.  Agar tak ada lagi tanya, “Dimanakah Kau di kala itu?”

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s