Variatio 13. a 2 Clav.

Untuk Kau budak belian yang setia tanpa merenggut di tengah asap pembakaran, yang setia bangun di kala subuh hanya untuk menyikat kaki – kaki kudaku agar bisa kupakai berkeliling, dan bertemu dengan teman – temanku sesama Priayi.

Jadi karena sebelumnya tak pernah kulakukan ini, tak pernah kutuliskan surat teruntuk seorang inlander. Apa kabarmu hai kawanku yang berkulit hitam?  Mungkin saat Kau terima surat ini, kau sedang sibuk membuatkan makanan untuk anak – anakku sebelum pergi sekolah. Sedangkan dirimu sendiri mungkin belum sempat mencuci muka, atau sekedar memberi makan anakmu yang sedang menyetrika kemejanya yang kusut di gubuk kecil bagi kalian di belakang rumah.

Aku harap kalian baik – baik saja, karena jika perbudakan ini selesai pada suatu saat, atau mungkin kalian bersatu kemudian dan membuat pemberontakan, Aku sejujurnya akan kebingungan tentang bagaimana jadinya nanti. Dari dalam lubuk kemanusiaanku yang paling dalam, Aku merindukan kita duduk semeja, tak perlu Kau dan anakmu harus sembunyi – sembunyi makan di belakang rumah, bersama anjing – anjing penjaga yang setia. Tapi memang kemanusiaan harus mati demi penghormatan kadangkala. Tahukah Kau, Aku mengerang tiada tara, ketika kau tak pernah dianggap ada, saat Aku dan kawan – kawanku menyantap makanan di meja bertaplak putih yang selalu kau bersihkan? Bahkan untuk kain yang kau sendiri basuh, kau tak pernah punya kesempatan untuk bersantap diatasnya.  

Mungkin terkadang Kau berpikir bahwa Aku terlalu egois, menjaga kedudukan dan uang dengan tidak peduli dengan kalian. Aku sudah berusaha, tapi satu suara kadang terlalu kecil di tengah dunia, teman. Dalam semua impian, hanya satu impian yang betul –betul Aku inginkan, yaitu kita duduk bersama di meja makan. Dan tak ada lagi tuan dan budak, priayi dan inlander, hitam dan putih. Tak ada lagi Kau yang memberi makan Aku lebih dulu dari anakmu sendiri. 

Bahkan dalam kebejatan manusia yang paling rendah, tiada tempat untuk ketidak-adilan seperti ini. Maka lewat surat ini pula, Aku mengijinkanmu membaca buku – buku di lemariku. Bacalah wahai temanku, menjadi pintarlah, dan bunuhlah kami yang menjajahmu ini suatu saat. Percayalah, jika keadilan tak bisa kuperjuangkan. Maka Aku harap kalian akan bergerak dengan sendirinya. Bahkan jika itu terjadi nanti, nyawaku-pun harus terenggut sebagai bayaran bukanlah suatu masalah bagiku kawan.

Dari Tuanmu yang selalu menunggu kursi kosong untuk diisi oleh anakmu dan Kau juga di sisi lain meja makan. 

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s