Variatio 14. a 2 Clav.

Untukmu Tuan Hooghoudt, yang ada di balik jendela kaca kantor. Yang tak pernah bisa sampai bagiku ada di sana, selain menerima sebuah surat pemecatan suatu saat nanti.

Maka tolong maafkan kelancanganku menuliskan surat ini, untuk Anda Tuan pemilik perusahaan tambang. Aku diam – diam menyukai warna jas yang selalu Kau pakai untuk berada di dalam kantor itu tuan. Sedangkan beberapa meter jauhnya dari Anda, Aku masih saja memakai pakaian yang sama. Hingga Aku-pun kadang lupa apa warna asalnya. Karena pucatnya bukan karena usang, bukan karena jarang dicuci. Tapi karena debu, bebatuan, dan minyak melunturkan kecantikannya pelan – pelan setiap hari.

Aku masih setia padamu Tuan, masih bangun jam enam setiap pagi, dan tak pernah terlambat ada di sini selama delapan belas tahun terakhir ini. Demikian juga gajiku tuan, umurku terus bertambah. Tapi mungkin adalah takdir bahwa tidak dengan upahku. Aku juga tak terlalu membutuhkan uang tuan, seperti yang tuan tahu: manusia tak butuh uang, dahaga kebahagiaannya terpenuhi, maka matilah dia kemudian. Aku sependapat dengan itu tuan. Aku tak butuh apa – apa lagi selain rumah yang cukup nyaman untuk ditinggali, dan upah yang cukup untuk kebutuhan anak istri. Tapi upah tak kunjung bertambah sampai sekarang, dan di luar, dunia jadi semakin kacau.  Aku tak ingin menyalahkan siapa – siapa. Karena Negara dan hidupku hanya seluas daerah tambang ini, dan nadinya adalah pacul – pacul besi di tangan. Di luar, Aku dan banyak semua temanku ditipu, oleh pengkhotbah – pengkhotbah yang manis suaranya. Maka itu, kutaruh semua hidupku padamu Tuan pemilik tambang. Jangan tanya Aku apa itu keadilan, karena dalam otakku yang sudah semakin mengkerut dimakan usia dan kelelahan ini, yang Aku tahu bahwa keadilan adalah upah berimbang dengan segala kemahalan yang melonjak dengan tiada perasaan di luar sana tuan. Mungkin Kau akan membentakku, dan menyuruhku memacul dengan lebih keras. Ya, tak apa tuan. Mungkin kebahagiaan itu berbeda tuan, Seperti yang Kau miliki tersembunyi di balik rapi lipatan – lipatan jas yang rutin disetrika tiap hari. Maka milikku bersembunyi diantara bebatuan. Dengan pacul, Aku tak henti – hentinya mencari. Bahkan keringat dan air sudah tak bisa kubedakan rasanya kadang-kadang di kala siang. Jika tuan tak bisa memberiku keadilan, maka kebahagiaan saja sungguh sudah cukup bagiku.

Dari Nemiroff, lelaki tua yang selalu menatapmu dari jendela. Bekerja dengan segala daya upaya.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s