Variatio 18. Canone alla Sexta. a 1 Clav.

Untuk Nikolai,

Kawan, Aku sedang menikmati kopi pahit kesukaanmu, tanpa gula. Sayangnya, hanya satu gelas. Biasanya berpasangan.

 

 

Sudah berapa banyak malam yang terlewatkan tanpamu teman, dan sudah berapa banyak juga yang terlewatkan denganmu. Untuk itulah, Aku mencintai kematian lebih dari apapun kawan. Karena masa – masa mengenangmu seperti ini sungguh nikmat rasanya. Lagipula, Aku yang mengharapkan mati lebih duluan, tapi kenapa Kamu curang?

Ah, memang. Banyak orang ingin hidup lama di dunia. Tapi untuk apa? Karena bumi toh begini – begini saja kawan. Kata orang – orang yang sakit minum racun cinta, katanya berjuta rasa. Toh, nanti mereka kan mati juga, berpisah akhirnya. Betapa bodoh, betapa anehnya mereka menciptakan keabadian yang semu. Bodoh, bodoh, bodoh.  Iya, cinta itu abadi kata mereka. Kau dan Aku hanya akan terkekeh kemudian. Lihat saja Kau sekarang ini Nikolai, yang mengingatmu sekarang mungkin hanya Aku dan keluargamu, setelah kita ini mati kemudian, siapa yang akan mengingatnya? Tidak ada. Hanya tahu nama, hanya tahu kisah, tapi tidak dengan cinta, tidak dengan rasa.

Dari jauh, mereka tak tahu bahwa mereka sedang ditertawai. Seperti kata penyair kesukaanmu itu, “…Hidup hanya menunda  kekalahan…”

Dia tangguh, sampai sekarang namanya masih dikenang, masih diulang-ulang sajak-sajaknya macam kaset rusak tiap tahun. Tapi ada yang pernah bisa menyentuh perasaannya pada Dien Tamaela? Omong kosong! Manusia – manusia mencoba menerka, tapi tak bisa meyamai, tak bisa. Hanya satu Dien Tamaela, dan hanya satu manusia yang menulis sajak dengan seluruh perasaan padanya. Perasaan itu tak bisa disentuh kawan, tidak akan pernah bisa. Dia jauh lebih unik dari sidik jari, jauh lebih rumit dari pola kornea mata.

Memang benar adanya, rokok juga tak sanggup membunuhku sampai sekarang.  Aku terlalu tangguh, ataukah dia yang terlalu lemah? Entahlah. Tapi dunia sepertinya tak mampu membunuhku sampai saat ini. Tapi sepertimu nanti, yang mengingat kita hanyalah orang yang menjaga pekuburan. Dan beliaupun akan tua, lalu mati.

 

 

 – Dari temanmu di rumah sakit jiwa, yang tak sempat menjadi ‘kekasih’

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s