Variatio 28. a 2 Clav.

Untuk Ayah,

 

Jika tak ada paradoksial angka dalam kungkungan waktu, itupun tak mengubah akumulasi banyak berbanding satu. Ombak riuh, langit rubuh, ketika kaki menjejak tanah jam empat subuh. Hanya Aku dan Ibu.

 

Mungkin di kala waktu jadi ampas kenang suram buram berangsur lebur, pekat di tengah lemah jadi bubur. Ada berkas – berkas kain hitam, legam, tiada logam jua ragam. Seperti kail pancing tasik yang mengusik bertahun sampai khatam tak kunjung jua padam.

 

Dalam kayu merayu pecah kepala darah mengucur meluncur terkulai-mulai menatap lalai terbengkalai. Adalah awal keheningan kukuh teguh diam pelan dikayuh, selama asin menunggu payau jangan ada Yasin. Jangan sampai, jangan. Sejenjang lengan segan, oh yang dirindu sekalian Pagan.

 

Sekelebat babat sayat hayat, siur – siur menyiur menyiul. Jangan tiada. Aku benci menatap gada.

 

Dimana ada, genderang berang jua tak mengapa, mengada. Aku siaga, berjaga, terjaga merobek mata lelap dikala berlaga tatap mata merah saga sang naga.

 

Aku yang menampik pelik dan percik tak pada peluk, tengkuk, hanya dalam seluk, merapat di badan teluk.

 

Mari merapat cepat, belum tepat tempat sekerat serta merta hebat sepat.

 

-Anakmu , maafkan yang terlalu malu selalu benalu lalu. Metafora, gelora, Deo fisus Labora? percaya, ego, Natvs ad Maiora.

 

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s