Variatio 29. a 1 ô vero 2 Clav.

Untuk Ibu,

 

Ini mungkin sejumput matematis, bukan ketetapan tapi kesepakatan manis. Dan tiada kasih dipilih, kuasa imajiner yang berlompat mengalih, sahih. Sekian juta melebur mengubur kita, mengikat seikat pada pita. Alangkah riuh gegap gempita, hingga runtuh tersita.

 

Dedaunan sirih tersisih basa dan sepi sendiri, lirih. Kejauhan, anak manusia bertarung dengan Tuhan. Daging sudah masak tadi tanak, maka meletuslah jadi anak, tumbuh kanak, nanti pianak, berulang beranak. Dalam hati, menghempas congkak. Ngalir dari serat pati, ini anak jadi tonggak.

 

Kejam, kejam hidup. Berebut serabut kita hirup. Dua manusia beriring-iring, tanpa digiring. Apa daya tandus sudah miring berbaring, mengumpat di bawah piring.

Dialah dia, sudah beranjak tanjak mampu bersajak sedia. Percaya sungguh, tangguh,  benar sudah kukuh. Tetap, masih sabar, sendu di bawah kaki Malabar, empedu mati, tidak Kau lagi.

Tunggu Bunda, tunggu. Jangan ada termangu dan ratap lagu. Beri sedikit lapang di kakimu, agar ini badan sedu sedan, depan sepadan. Meski sering kutuang lumpur sedulang, nista tiada rumah berpulang.

Bunda, bunda. Sebelum Kau mata air merenda, dan keranda jadi tanda. Sujud tahajud, jiwa ananda ubah berganda, bukan pertanda.


Angin timur capai berumur, janji berlumur berumur, kembali bunda cinta ku-hatur.

 

 

-Anakmu yang kurang ajar, padahal katanya sudah banyak belajar. 

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s