Variatio 30. Quodlibet. a 1 Clav.

Untuk Aku,

Menetes pada suatu waktu, dikepak malu dan benalu. Lalu, terenggut remuk dihantam palu diikat pikat dedalu.

Hai manusia, sudah tiga puluh jua. Dan Kau sudah harus menyerah sekarang. Kata-kata manis mulai habis. Alangkah tangguh waktu mampu mengikis, miris.

Tak pernah menyangka, bagaimana rentanya manusia. Bisa kukuh, hanya menelan kata? Dalam kagum yang terbata, garis langit memaksa, menekan jadi rata.

Oh Manusia, dimana nafas tinggal sedepa, Aku salut, kalut; jiwa sudah tiada, tiada di mulut, pencinta membebat, membalut, pijar api terus tersulut. Sedang di akar-akar kelam, nyawa bergelayut.

Wahai Manusia renta perkasa, jawab hai jawab! Biar dalam azab, muntahkan sedikit mazhab.

Duhai Manusia yang hampir hilang hayat, mampus jadi mayat, keridlaanmu yang angkuh berkati-kati. Dimana jiwa sembunyi?

“Dalam kasih tentu pasti. Hidup, karena rasa abadi. Sedang zaman, menunggu tulisan untuk tulus dikebiri. Mencintai Sobat, mencintai. Setulus-tulusnya, semampu-mampunya. Bahkan dalam benci yang bergelora bak Sodom dan Gomora.”

“Dengan apa lagi kita maniskan hidup yang singkat ini? Kalau bukan dengan cinta tulus murni.”

Maka matilah Aku yang menulis ketiga puluh surat cinta. Hanya berteman sumbu suluh yang luluh luruh di buluh, setelah Variatio ke tiga puluh.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s