Bunyi pompa air dan kipas berisik, Nenek Pagi.

Pagi sudah larut oleh kopi pekat, yang tertinggal hanya manusia yang berdiam di antara sekat. Aku berjalan sebentar ke depan, melihat nenek pagi duduk di dipan. Dengan negara, dia sudah seumuran.

Aku sering melihat, berbicara tanpa perlu kata setitikpun berkelabat. Benar adanya mata adalah jendela hati. Raga boleh bergemuruh, tapi terlihat pati hati, mati.

Maka kuputuskan pula untuk melupa. Sejak lama, pada tahun hidup atau dilempar oleh heningnya dupa. Agar Aku tak kunjung tua, dan takut akan mati sirna.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s