Sembari melihat sebatang lilin.

Lampu pijar enggan menyala, di tengah gemerisik menyela. Aku merenungkan ketiadaan, yang tadinya ada. Lalu nafas yang terlafas menjadi sia. Dan ada percik semilir air akan bosan suka. Melihat manusia yang mengeratkan jiwanya pada perasaan luka.

Ada remaja, ada pemuja, ada perempuan berhati baja- berkalang senyap bersahaja. Mungkin ada benarnya yang kubilang dulu; salahmu meninggalkanku, tapi salah Aku mengenang. Dalam terpaku, merenggut senang.

Atau mungkin lagi sepertinya, beberapa merpati harus mati sembari terbang. Sedang ilalang bungkus pianak mengering di sarang. Sungguh, betapa hidup hilang redup keridlaanmu. Sedang Aku tiada bersimpuh pada ke-Aku. Bukan takdir membunuh, tapi cinta pada Kau, terlalu sempat ku-bersikukuh.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s