Ayah

Ada empat nyawa di sini. Kami berdiri dalam posisi masing – masing mengitari ranjang beralaskan besi. Aku, kakakku yang pertama, adik perempuanku, dan Ibuku. Kakakku sudah bekerja, lama berkerja setelah dia lulus kuliah. Aku masih pengangguran, memang kuliah. Tapi belum – belum juga mampu untuk lulus. Adik kami yang paling bungsu masih kelas empat sekolah dasar, seperti anak perempuan sekolah dasar umumnya, jadi tak kuceritakan terlalu banyak. Bunda, perempuan  setengah abad yang sudah banyak uban. Sudah tak mampu semir rambut menutupi sempurna helai – helai uban yang nakal sering melonjak dari kepalanya. Dibalik kulitnya yang keriput, beliau masih tetap terlihat segar terlihat dari kedua matanya yang coklat bening. Kami berempat ada di sini, membentuk formasi biasa dan mengitari ranjang ini sambil melihat manusia kurus kering yang terbaring diatasnya. Ya, dia adalah ayahku. Ayahku sudah sekitar enam bulan terbaring di rumah sakit. Penyakitnya, paru – paru. Tak heran, beliau adalah pecandu rokok. Infus dan oksigen tetap setia membantu kenyamanannya tidur – tiduran di ranjang  yang kumal ini. Tentu saja, ranjang di rumah kami jauh lebih baik, jauh lebih semarak warna seprainya, dan di kepala ranjang ada ukiran – ukiran sederhana namun menarik. Tidak seperti ranjang besi yang kelihatannya dibuat dengan tidak ada niatan dari sang pembuat ini. Ada tiang infus yang terlihat seperti tiang listrik yang diperkecil puluhan kali berdiri diam di samping ranjang, setia mengalirkan glukosa ke dalam pembuluh darah ayah. Di meja tinggi di samping ranjangnya, ada keranjang buah dengan isi pisang yang sudah kehitam – hitaman warnanya. Ibu duduk di kursi yang agak tinggi, tepat di samping kepala ayah. Sambil mengelus – eluskan rambut ayah yang terlihat kering karena lama tak pernah bersentuhan denga minyak urang – aring kesayangannya. Ibu hanya menggunaan blus krem dengan motif bunga – bunga merah kecil, beliau tak berbicara sepatah katapun sejak kita masuk ke ruangan ini. Hanya tubuhnya yang berbicara,  mengelus – eluskan rambut ayah, sambil sesekali menggumamkan sesuatu bersamaan dengan pandangannya yang kosong melihat tubuh ayah. Kakakku duduk di kursi plastik lebih rendah di samping kanan ranjang, dengan kemeja lengan panjang biru pucat, dan celana kain hitam, lengkap dengan dasi pendek. Seragam wajar untuk orang kantoran. Adik perempuanku menggelayut di tangan ibu. Sambil sesekali berlari keluar, lalu masuk lagi. Dihisap-hisap permen di mulutnya, sambil bertanya banyak hal pada ayah terus menerus. Karena sudah tidak ada kursi lagi yang tersisa, maka aku hanya berdiri agak jauh di belakang kakakku. Dan ayah sendiri, hanya senyum – senyum saja sambil memegang tangan adikku yang perempuan. Beliau terlihat ceria. Tak ada tanda – tanda sedang sakit dalam wajahnya. Masih tetap seperti sedia kala. Selalu dihiasi senyuman dan tawa – tawa yang selalu keluar bahkan untuk hal – hal sederhana .

 Sudah enam bulan di sini, dan tidak ada sedikitpun tanda – tanda beliau membaik. Kelihatannya semua semakin memburuk dengan ditambahnya alat – alat perawatan yang makin bertambah. Untunglah, di pertengahan abad umurnya, ibu dan ayah sudah punya tabungan yang lumayan, kakak sudah bekerja, tinggal Aku yang masih pengangguran dan adik perempuanku ini. Jadi masalah pembiayaan masih bisa kami tanggung. Ayah kami dulu seorang guru sekolah dasar. Puluhan tahun mengajar bahasa Indonesia pada anak – anak kecil yang masih terlalu ingin bermain ketimbang belajar. Beliau tak pernah naik pangkat, hanya jadi guru biasa. Tak pernah merasakan jadi kepala sekolah atau sejenisnya. Pangkatnya susah naik, maklum beliau orang yang ceria namun keras kepala. Di saat orde baru, para pegawai negeri “diwajibkan” memilih Golongan Karya. Beliau tetap saja ngeyel memilih parpol lain. Pernah kutanyakan pada beliau:

  “ Pak, kenapa tidak pilih saja sesuai kemauan pemerintah. Biar bapak bisa naik pangkat. Kan kalau naik pangkat, gajinya nambah. Mungkin nanti bapak bisa beli sepeda motor biar kita bisa sering jalan – jalan?”

 “ Jadi Aku harus menjual prinsipku hanya untuk bisa membawa keluargaku pergi jalan – jalan nak? Ha ha ha.” Jawabnya sambil tertawa. Aku cemberut. Bukan karena apa, tapi karena impian untuk bisa jalan – jalan setiap liburan dengan sepeda motor seperti halnya yang sering dilakukan teman – temanku dan orang tuanya telah tandas. Saat itu, aku masih berada di Sekolah Dasar.

 Jadi, tidak usah heran sampai umurnya yang sudah setengah abad lebih ini beliau masih tetap jadi guru Sekolah Dasar. Masih bangun pagi – pagi, mandi air dingin, lalu berjalan ke sekolah sambil terkadang gemetaran karena dingin yang menusuk tulang. Sarapan paginya tak pernah yang muluk – muluk. Dikasih rokok kretek dua batang dan secangkir kopi hitam pekat saja sudah senang girang bukan kepalang. Dan memang, ayah itu sehari mungkin hanya sekali makan. Sepulang dari sekolah, beliau melihat dan mempersiapkan hal – hal yang menyangkut dengan pengajaran. Lalu malamnya,  beliau sibuk tepekur dengan buku – buku lama yang sering dibawanya dari perpustakaan sekolah. Tidurnya pasti larut. Enam tahun berada di sekolah dasar, tak pernah sekalipun ayah tidur mendahului Aku. Tak pernah sakit. Tak pernah Alpa ke sekolah. Ya, kadang berhalangan. Jika ada urusan keluarga. Tapi jika tak hadir karena ke-alpa-an, beliau tidak pernah sekalipun. Setiap pagi, Ayah berangkat ke sekolah bersamaan dengan Ibu yang pergi ke kantor. Ibuku juga seorang pegawai negeri sipil. Seperti seorang pegawai negeri biasa, yang selalu bangun pagi mengurus sarapan dan makanan, lalu mengurus Aku dan adik – adikku, ke kantor lalu pulang sore harinya dan harus mengurus rumah dan makan malam begitu setiap hari, selama bertahun – tahun. Tapi apa yang sangat Aku senangi dari orang tuaku? Kami bertiga bersaudara, tak pernah terlambat membayar uang sekolah. Tidak pernah.

 Dan kami berempat yang ada di situ, hanya diam saja sedari tadi. Kami hanya berganti – gantian menatap ayah. Terkecuali adik perempuanku, dia menduakan ayah dari pandangan matanya dengan permen kesukaannya, atau sekali – kali memilin ujung taplak meja.

 Ayah yang sedari tadi hanya tertawa – tertawa melihat tingkah adik perempuanku lalu diam dan tak banyak bicara. Ditatapnya mata kami satu persatu, lalu senyum tipisnya mulai merengang di wajahnya. Dengan sedikit terbatuk – batuk, beliau mencoba berbicara. Maka dipandanginya kakakku yang paling sulung, matanya menelusuk setiap lipatan yang ada pada kemejanya, kancingnya, sampai dasinya. Beliau tersenyum padanya, lalu berkata :

 “Nak, banyak orang berkata bahwa anak pertama adalah pundak kebanggan setiap orang tua. Tapi maaf nak, kebanggan itu tak Aku taruh padamu seorang. Aku taruh padamu, dan juga kedua adik – adikmu. Aku selalu ingat masa kecilmu, bahkan hari pertamamu ke sekolah. Menggunakan kemeja putih. Banggalah Kau nak. Karena kemeja itu baru, dan benar- benar Aku belikan untukmu.  Karena adik-adikmu hanya mendapat warisan kemeja darimu. Bukan Aku tidak adil, tapi Aku ingin agar kau tahu bahwa adik –adikmu dan kamu adalah satu. Sedarah.” Batuk lagi-lagi membungkam niatnya untuk berbicara, Ibu dengan segera meraih gelas di tatakan meja, lalu meminumkan di mulut Ayah pelan-pelan. Nafasnya masih belum beraturan kecapaian. Tapi Ayah seakan tak mau berhenti.

Sambil meredakan batuk, beliau melanjutkan, “Dan sekarang, setelah beberapa tahun lewat. Kau sudah bisa membeli kemejamu sendiri. Bagus dan jauh lebih mahal dari kemeja sekolahmu yang dulu kubeli untukmu. Sudah bisa kau beli Honda untukmu sendiri, dan kadang juga kau belikan rokok untukku. Itu bagus sekali nak. Bukan kepalang senang Aku karena sudah lepas bebannku untuk menghidupimu seperti kata banyak orang. Bukan.”

Batuk kembali meloncat dari mulutnya, suara membahana memantul-mantul di dinding-dinding putih bangsal. Ibu mengusap dadanya, sambil menenangkan Ayah. Dimintanya Ayah untuk tak terlalu memaksa. Tapi seperti yang kita semua tahu, manusia ini benar – benar keras kepala.

 Beliau menarik nafas, menelan air dari gelas sedikit – sedikit.

“Aku tahu, bahwa adalah seumur hiduplah yang harus ditanggung oleh orang tua untuk dibebani anaknya. Dan beban itu sendiri sebenarnya tak ada. Bukan beban bagiku, tapi tanggung jawab. Tapi sekarang, tanggung jawabku tidak berkurang, tidak pernah. Bedanya hanya bahwa kau sudah punya kemeja bagus, dan sudah bisa membeli sesuatu untukmu, sesukamu.”

Matanya menerawang, pandangan kosong dan udara yang dihirup setengah-setengah coba digapainya. Sebanyak-banyaknya.

“Tapi ingin kuingatkan padamu nak,  janganlah kau menjadi sombong sekali – kali. Karena sudah bisa kau beli segala sesuatu. Kau bolehlah sombong pada orang tuamu ini, tapi jangan pernah pada setiap orang diluar sana. Aku ingin kau tahu, bahwa harta adalah bibit kesombongan, maka sedari dulu Aku selalu mendidik kalian dalam kesederhanaan. Bukan uang yang membeli kebijaksanaan nak. Bukan uang yang menumbuhkan kehidupan. Jadilah kau kaya, jadilah kau banyak uang.”

Suaranya mulai parau, diselingi batuk – batuk kecil. Nafas ditarik dalam – dalam. Dicarinya kata – kata lagi. Dan semua seperti berdesakan ingin segera keluar dari mulutnya.

“Kau tahu kenapa banyak sekali orang miskin di negara ini nak? Karena pemimpin – pemimpin kita enggan berbagi. Bukan uang, bukan. Tapi berbagi tempat. Semua orang di negara ini selalu berebut akan segala sesuatu. Semua ingin menang, semua ingin menjadi yang utama. Tak peduli dia layak atau tidak. Dan mereka – mereka yang kalah, adalah mereka yang kemudiannya berakhir dijalanan.  Maka selalu kuingatkan padamu, bahwa berbagilah, dan jadilah orang –orang yang kalah itu. Karena akan patah hatiku jika Kau menjadi bagian dari orang – orang kalah yang memaksakan kemenangan.” Beliau menutup kalimatnya dengan mengusap – usap lengan kemeja kakakku. Tersenyum sebentar kepadanya. Kakakku hanya diam dan membalas senyumannya. Digenggamnya tangan ayah erat – erat. Batuk kembali mengiringi sepi kecil yang hadir di tengah manusia – manusia ini.

 Lalu pandangannya berpaling padaku. Beliau terbatuk pelan, dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dengan aneh dan kaku. Aku mendekat pada ranjangnya, berdiri di samping kakakku. Matanya tak lepas, “Anakku yang kedua,  hal pertama ketika kau akan lahir ke dunia, adalah ketakutan. Ketakutan bahwa, Aku akan lebih mengasihimu daripada kakakkmu atau sebaliknya. Tapi kemudian Aku bayar ketakutan itu dengan mendidik kalian dengan sama. Tak seorangpun lebih dari yang lain. Kalian berdua sama banyak. Sampai detik ini.”

Beliau diam sebentar, meraih gelas air lalu diminumnya pelan. Sesudah itu, berkali – kali membasahi bibirnya. Bibirnya mengecap – ngecap tak keruan, mencari – cari kalimat selanjutnya.

 “Dan sampai sekarang ini, Aku senang melihatmu nak, mungkin sekolahmu tak kunjung selesai. Tapi ingatkah kau nak, bahwa Aku tak pernah memintamu untuk menyelesaikan sekolahmu dalam waktu tertentu?  -karena Aku tak mau kau melakukan sesuatu dalam bayang ketakutan. Nikmatilah hidupmu, Aku dan ibumu akan selalu berusaha untuk membiayai kehidupan dalam waktumu belajar.”

Aku memegang tangannya semakin erat, beliau terdiam. Ada sedikit air mata yang coba menggantung di ujung pelupuk. Tapi kutahan betul, dan kutahu juga ayah demikian dalam hatinya.

 “Maka jujurlah Aku padamu Nak, Aku memang tidak pernah ingin Kau untuk cepat selesai. Karena bagiku, orang yang cepat selesai kuliahnya, mereka cepat selesai dalam mempelajari buku. Tapi mereka belum mempergunakan apa yang mereka pelajari dalam hidupnya. Aku ingin kau ke Universitas, bukan hanya untuk menghafal buku, bukan hanya mengikuti apa yang diperintahkan dosen. Bukan itu niatku. Aku ingin kau tak hanya belajar dari dosen, atau dari buku. Belajarlah dari lingkunganmu, belajarlah pada teman – temanmu, hal itu tak pernah akan kau dapati dalam ruang – ruang kelasmu nak. Itu yang membuatmu hidup. Ilmu bisa memberimu uang, tapi pengalaman memberimu segalanya.

 Maka jika suatu waktu sudahlah kau merasa cukup dalam dunia belajarmu, maka keluarlah kau dari sana. Dan kemudian kembali ke lingkunganmu yang kacau. “ kata – kata dilontarkannya dengan pelan dan teratur, sembari menenangkan dadanya yang menusuk karena berebutan udara. Aku terdiam, kami semua terdiam. Dan yang tersisa hanya suara angin yang masuk melalui kerai jendela.

 “Kau tahu Aku kan Nak, bahwa Aku akan selalu teguh dengan apa yang kupercaya itu baik. Bila nanti sudah selesai kuliahmu itu, kembalilah pada manusia – manusia. Belajarlah lagi dari awal. Banyak pemimpin – pemimpin di negara ini nak, mereka pintar – pintar. Titelnya  sudah berenda – renda di belakang atau depan namanya. Tapi mereka bahkan tidak bisa memimpin diri mereka sendiri. Mereka bahkan tidak bisa menuntun tangannya untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan miliki mereka.”

Aku berpaling pada ibu, memeluknya dengan satu tangaku. Aku mencoba tersenyum kecut. Dan ayah tetap mencari udara banyak – banyak. “ Kau tahu kenapa Nak? Karena mereka terlalu banyak menghafalkan isi buku. Mereka pintar dengan kata – kata yang manis. Menghafal ilmu yang sudah turun temurun diwariskan. Dari satu manusia ke manusia lainnya. dan pada saat mereka keluar dari situ, kembali ke masyarakat, mereka berhenti belajar dari lingkungannya.

Kebenaran tidak terdapat dalam buku Nak, tidak pernah ada. Kebenaran ada dalam kehidupan yang ada di sekelilingmu, yang melintas pada kedua matamu.  Jadilah benar, jadilah adil Nak.“

 Beliau menutup kata – katanya padaku, sembil terbatuk – batuk. Terlihat memang beliau berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkan semua kata – kata itudengan susah payah mengatur nafas dan menaklukkan kerongkongan yang sedari tadi memaksnya untuk terbatuk – batuk. Ibu mengambil gelas air, dan meminumkan padanya pelan – pelan. Beliau tenang, dan ibu menekukkan kedua alisnya ketengah. Sambil terus mengusap – usap dada Ayah agar batuknya berhenti. Ibu masih tetap diam. Lalu kutatap mata Ibu sebentar. Matanya sudah berkaca – kaca. Tapi semua yang ada di situ bahkan tidak mampu untuk berkata apa – apa. Dan hanya memperhatikan senyum Ayah yang tidak memudar sedikitpun sejak tadi.

 Ayah memanggil adik perempuanku yang bungsu yang sedang sibuk mengunyah permennya. Dipeganglah tangan adikku itu, lalu dituntunnya naik pada samping ranjang. Adikku dalam baju berenda merah muda duduk di samping ayah. Sambil tertawa – tawa menatap ayah. Dan menggoyang – goyangkan kakinya yang hanya menggantung di tepi tempat tidur sambil tangannya memainkan  kancing bajunya. Ayah menatap mata kecilnya yang coklat dan selalu ceria. Adikku membalas dengan memamerkan gigi – giginya yang jarang – jarang dan kecil. 

 Lalu sembari mengelus – elus pipi adikku, beliau berbicara padanya,

“Nak Putri, waktu kau lahir. Adalah dimana saat sudah hilang rasa  takutku karena tidak bisa adil bahkan pada anak – anakku sendiri. Jadi tak ada rasa takut sedikitpun seperti yang terjadi saat kakakkmu lahir. Aku merdeka nak. Dan kau adalah suatu pertanda akan itu. 

 Jadi Aku selalu menginginkan hanya satu darimu nanti. Bahwa kau adil. Seadil arti kau lahir ke bumi. “

Tangannya mengusap dan mencubit pelan pipi adik perempuanku. Senyumnya tetap ada, dan adikku tersenyum dengan sedikit memamerkan gigi – giginya yang kecil. Nafasnya di tarik dalam – dalam, dan untuk kesekian kalinya beliau meminum air lagi, membasahi bibir lagi.

 “Bertumbuhlah Nak, jadilah perempuan yang baik. Bahkan lebih baik dari ibumu sendiri jika Kau mampu. Hanya, berusahalah sebaik – baiknya. Janganlah pernah patah hatimu, atau takut. Bertumbuhlah, tegak tinggi menjejak bumi. Menantang angin. Jangan pernah seorang lelakipun menggoyahkanmu budi baikmu kelak. Karena Kau lahir di bumi dengan merdeka. Tak menuntut, dan tidak pula dibawah tuntutan. Maka jadilah Kau perempuan yang kuat. Yang tak lebih rendah dari laki – laki, dan tak hilang keanggunannya sebagai seorang wanita. Tegarlah Kau, cintailah hidup, cintailah manusia – manusianya, cintailah kehidupannya. Cintailah setiap lorong yang sepi dan emperan yang dipenuhi oleh manusia – manusia yang merenggang nyawa. Tumbangkanlah setiap orang yang mengkhianati kehidupan, tapi jangan pernah Kau bunuh dia. Biarlah tubuhmu perempuan, tapi hidupmu adalah bumi dan kehidupan. “

 Ayah menutup kalimat – kalimatnya, sambil mengusap wajah adikku dengan kedua belah tangannya. Adikku tentu tak mengerti arti setiap kalimat yang keluar dari mulut ayah, dia hanya membalas ayahku dengan senyum lebarnya. Dan itu sudah cukup menentramkan hati Ayah.

 Bunda sudah tak tertahankan lagi air matanya. Bisa kulihat air matanya mengucur deras melewati lekukan – lekukan kulitnya. Tangannya menggenggam tangan ayah. Tapi bimbang. Antara menggenggam dengan kuat atau lemah. Maka ayah yang berbalik menguatkan genggamannya. Dipandanginya ibu. Tak sedikitpun air mata keluar dari mata ayah. Bahkan menggenangpun tidak. Beliau tersenyum dengan lepas. 

“Istriku, Aku masih ingat pertama kali Aku mengenalmu di pesta kelulusan kala itu. Kau masih berkepang dua, dengan rambut hitam ditarik ke belakang. Kau tahu, Kau terlihat cantik malam itu. dengan blus putih dengan renda di lengan dan di depannya. Terlihat serasi dan padu padan dengan roknya. Entah, memang bagus, atau mataku yang sudah tak bisa membedakan mana kecantikan dan mana perasaan. Rasa – rasanya apa yang kita lihat dengan perasaan akan berbeda sekali dengan apa yang ditangkap oleh mata dan akal.” Ayahku berkata sambil tersenyum pada Ibu. Ibu membalasnya dengan tawa diantara derai air matanya yang tak kunjung berhenti.

Kedua manusia itu saling berpegangan dengan erat, kami semua diam. Mungkin adalah saat untuk apa yang tak mampu kita lihat, berbicara dalam bahasanya sendiri. Tapi ayah mulai mengatur nafasnya lagi. Aku, Kakak dan adik perempuan yang kupangku hanya diam melihat dua manusia saling berbicara dalam bahasa – bahasa diam yang tak satupun kita mengerti. 

“Setidaknya malam itu, tak pernah terpikirkan olehku bahwa Kau akan hidup bersamaku sampai bertahun – tahun seperti ini. Ya, terkadang Aku marah padamu. Karena anak – anak kita lebih banyak mirip denganmu ketimbang Aku. Tapi lalu Aku pikir itu tak mengapa. Selama Kau adalah ibu, dan Aku adalah ayah mereka. Terima kasih Nona, tak pernah berkeluh kesah selama hidupmu. Selama kita makan ayam goreng, atau Cuma bubur. Terima kasih karena tak pernah mengeluhkan Aku yang terlalu sering memberikan sekuntum bunga sebagai hadiah, yang padahal Kau tahu itu Aku petik di pekarangan tetangga.”

Ayah berhenti sebentar, tidak untuk mengambil air. Tapi untuk menatap mata ibu dalam – dalam sembari menorehkan senyum di sudut bibirnya. Sedangkan ibu, mungkin itu adalah senyum terbaik yang pernah Aku lihat selama ini. Mata ayah berbinar, kedua manusia itu saling erat berpegangan. Ayah terlihat jauh lebih girang dari apapun yang pernah kulihat. 

“Terima kasih sudah menjadi Istri yang luar biasa dalam kehidupan kita yang biasa – biasa saja, terima kasih tak pernah mengeluh karena bertahun – tahun harus mengurangi jatah minyak rambutmu hanya karena kita butuh tabungan, terima kasih, sudah mempertaruhkan nyawa untuk tiga orang anak – anak yang sekarang sedang berada di sini, terima kasih, sudah setia membuatkanku kopi setiap pagi, dan menyediakan rokok, dan untuk sarapan yang selalu ada sebelum Aku dan anak – anak ini pinta, dan terima kasih untuk semua hal baik,  yang tak sempat Aku katakan padamu. Mungkin diluar sana, setiap suami menganggap istrinya atau selingkuhannya adalah yang terbaik. Tapi di sini, di tengah ruangan yang berbau obat dan di atas ranjang yang lusuh ini. Aku ingin Kau mendengarkan langsung dari mulutku bahwa Kau adalah istri terbaik yang ada di dunia.“

Kata demi kata dimamahnya pelan – pelan, dengan rasa yang tak mampu kami semua gambarkan. Lalu ayah lagi melanjutkan, “Bukannya Aku tak adil pada istri – istri yang lain. Tapi karena tak pernah dan tak ingin kuijinkan diriku untuk memperhatikan mereka. Karena semua yang kubutuhkan sebagai rusuk yang mewujud manusia telah ada dalam dirimu, Nona.”

 Ibu membalas kata – kata ayah dengan senyum paling manis berbalut air mata. Dan seketika itu Aku merasa bahwa ayah dan ibu mungkin tak pernah tua. Masih sama seperti saat merek pertama bertemu, dimana Aku dan saudara – saudaraku ini masih dalam bentuk benih dalam rahim Ibu.

 Ayah melayangkan pandangannya ke semua kami, ke seluruh ruangan. Beliau tersenyum manis. Diteguknya lagi air putih dari gelas kedua sampai tandas. Beliau menarik nafas panjang. Dan membenamkan kepalanya ke bantal. Menutup mata sebentar.

Lalu kemudian dibukanya lagi matanya sambil melirik kami semua, dan hanya berkata, “Kalian keluarlah sebentar, Aku ingin istirahat.”

Maka kami pun tersenyum. Memegang tangan ayah, ibu dan adikku yang paling bungsu mengecup kening ayah. Lalu kami semua keluar dalam diam. Tak ada dari kami yang pulang, kami duduk di bangku besi di depan kamar ayah. Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat lewat. Sambil berlari, menerobos kamar ayah. Kami disuruh untuk menunggu saja di luar. Setelah bergulat  sekitar lima belas menit. Dokter keluar dengan muka tertunduk. Menatap wajah ibuku dalam – dalam.

 “Beliau sudah pergi.”

 Ibu tersenyum, menatap kami semua. Aku terduduk, kakak  membuang pandangnya jauh menembus jendela ke barisan pepohonan, dan adikku hanya melihat kami dengan kebingungan dan kosong.

 Ibu kembali duduk, dipangkunya tubuh adik perempuanku. 

 Lalu berbisik padanya, “Dia juga suami terbaik yang ada di dunia.”

 

 

 

 

 

 

 

Salatiga, 15 – 22 Juni  2011

 – Cerpen coba-coba setahun lalu. kesimpulannya : Aku butuh editor yang hebat. ha ha ha. karena cerpenku ini kacau balau.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Ayah

  1. ellatahitoe says:

    “Bukannya Aku tak adil pada istri – istri yang lain. Tapi karena tak pernah dan tak ingin kuijinkan diriku untuk memperhatikan mereka. Karena semua yang kubutuhkan sebagai rusuk yang mewujud manusia telah ada dalam dirimu, Nona.”

    Beta harus bilang “wwwoooowwww…”
    Memacu diri agar nantinya.. suamiku nantinya.. bisa berucap hal yang sama. Hahhahah.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s