Peluru tujuh tahun.

Berdarah Aku di gigi dihantam Budi dengan sikut, semenjak pulang main layangan.
Celengan ayam sudah lama di sudut, isinya sudah cukup utuh sebadan.
Kupecahkan segera, kalah dengan amarah yang terpendam sejak semula.
Lari ke pasar penuh murka, dengan gemetaran Tuhan terenggut pula.

Kendi tanah kuretakkan, sudah kutemu jagoan kampung.
pistol sudah di tangan, kemarahan ini sudah ujung dirampung.
Kupanggil keluar Budi dari beranda, sudah persis Marsose Belanda.
Kuajak ke tanah lapang, dengan rayu gelasan dan anak layang melayang.

Sudah sepi, tinggal kami berdua kini.
Dari balik baju keluar itu senjata api, ajal sudah tiba menanti.
Dia berbalik, terkejut itu mulut glock siap terancung bak murka sang Khalik.
Segera terlontar peluru 5,56 x 45 milimeter, kutuju tepat merobek sisi di leher.

Bau mesiu tersisa sebentar, lalu yang ada tubuh anak menggelepar.
Maju selangkah Aku, melihat badan memberontak kaku.
Glock menganga sekali lagi, peluru kali ini tepat di dahi.
Darah membasuh tubuh, dendamku sudah kukuh lalu luluh.

Aku temui tuan polisi, menyerahkan nyawa yang barusan kuhabisi.
Pindah kamarku di balik jeruji, oleh peluru, kepala dan pesawat sederhana di kelas fisika: baji.
Lalu lampu bilik jadi remang sebentar redup, dinding batu meniduri besi tatakan.
Karena betul kata orang, kematian adalah bagian dari hidup. Tak bisa Kau pisahkan.

– Aku waktu umur tujuh tahun

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s