Menikmati kopi, sambil melihat manusia mengebiri manusia lain.

Memang selalu menyenangkan seperti ini. Kamu meributkan banyak hal di sana, dan Aku duduk diam di pojok dengan secangkir kopi. Dimana api sudah membara dalam kata-kata dan orasi, lalu Aku jadi bagian dalam ketidak mampuannya Kau untuk mengakui akan adanya partiarki.

Kenapa?

Santun.

Sembari sintesis keluar dari pinggir bibirmu yang manis, nyata terlihat bagi sebagian kaum adalah ular yang tak cakap berdesis.

Oh, tenang.

Di sini sudah kusiapkan jutaan bedil untukmu. Agar saat lelah hati, ku-kokang senjata. Lalu kuhamburkan anti-tesis merata. Jadi apa tesisnya kemudian?

Ah, biarkan manusia di tepian gelanggan ini berdialektika.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s