Jam beker tetangga tak kunjung berhenti.

Aku menuangkan lautan bintang di langit cakrawala kusam, menghujam, pada rimba di tubuh telanjang berbukit hitam. Di laut, kunyanyi ode untuk Ayah tanah, merasuk embun meleleh pada pipi Mama, jadi dupa dan sesembahan sejak lama.

Umpama bohlam-bohlam kaca yang merangkum halogen, wolfram. Berpendar pada telapak anjungan angin dedaunan binar redup.

Jika belum Kau terima derita dan cinta adalah sebuah kesatuan, maka Kau tak kunjung memilih untuk hidup.

Nyiur jadikan Beta larik lagu – lagu melabur dinding rumah, dan laut meniup ingin balik ke badan karang tempat bunga berkecambah.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s