Saya takut, bahwa suatu waktu Twitter menjadi patokan kualitas sastra Indonesia. Saya takut, bahwa sastrawan kehilangan kewajibannya sebagai saksi peradaban bangsa. Saya takut, Sastrawan jadi nyaman dalam satu hal, yang menjadi keinginan pasar. Hingga jadilah dia seorang buruh seni, dan bukan seniman.

Ketakutan Saya sebenarnya.

Quote | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s