Serenade, Maret 28.

                                                                                                              Act :  1

                                                                                                         Scene : 2

                                                     Ellena Ekarahendy sebagai @yellohelle

                                                  Michael Edward sebagai @MungareMike

 

 

 [ Ndoro telah bersiaga, di pelimbahan layaknya setiap manusia. Bujang memanaskan perapian, setelah menilik dahan mengigil, segigil canang di tahun yang kesekian. ]

 

yellohelle

Sakit kepala sehabis menyalami hujan. Tak sempat memeluki tetesnya, juga memeluk rindu buat Bendoro raja.

 

 MungareMike

Rindu bukan obat yang baik diminum sebelum tidur, Ndoro.

 

yellohelle

Bukan sekarang kutelan, bujang. Aroma tubuhnya sudah terlanjur tinggal di paru-paru. Kutidur pun enggan tanggal.

 

MungareMike

Jadikanlah gulali, seperti impian setiap gadis kecil dahulu sekali.

 

yellohelle

Berusaha kupanggil kantuk dengan anarkisme Sheehan, bujang. Pertanyaanku, apa rindu sedemikian getir?

 

MungareMike

Kau tahu jawabnya, Ndoro. Tiada perlu kumuntahkan lagi.

 

yellohelle

Rindu yg getir bukan yg tak terjawab, juga bukan yg tak terbalas. Getir ada pada rindu yang tak terbilang, bujang. Aku tidak.


MungareMike

Maka benarlah, Kau adalah Akar pohon tua. Seperti kisah yang kuhembuskan bagi alam dahulu.

 

yellohelle

Kebenaran apa yang Kauyakini dari senandung akar pohon tua? jabarkan.


MungareMike

Rindu itu manis, seperti yang sudah – sudah. Semenjak zaman para tetua, menabur petuah.


yellohelle

Makanya kusisip manis bersama selimutku. Selamat malam, bujang. Sesekali cicip juga sisa manis rindumu. Malam terlalu dingin.


MungareMike

Biarlah Ndoro lebih dulu. Aku masih mencari rindu di sudut gugusan Canis Majoris. Selamat malam, Bendoro putri.

 

[ bujang meringkuk, menebar semarak wangi tubuh di wajah tanah, setelah membenarkan lingkup seleher sutra rindu Bendoro raja, yang melingkupi tubuh Bendoro putri sejak tadi. Dia pulas, dan bujang mulai mengeja The Dream milik tuan Pusjkin. ]

 

–  End of scene 2, Act 1  –

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s