Pada suatu malam bersamamu

Jadi, beginilah kiranya, Aku menggendongmu masuk ke ruang dalam. Berakhir di tumpukan perkamen kulit hewan tua dan tinta yang sudah berubah bau-nya. Aku bergegas mencumbuimu dengan birahi yang sangat, dan lidahmu menggerayang menyengat. Lalu, cengkramanmu menguat, membuat gelora menyemburat.

[ Di langit, beberapa manusia tua, mati menatap dua manusia yang bersanggama dengan hebat atas nama – nama.]

Kembali, Aku menanggalkan Kau hingga telanjang bulat. Demikian juga Aku, bersama malam kualat. Kuremas dadamu dengan gemas, dan daun telingaku penuh oleh desahan sastramu yang panas. Kita bersetubuh dengan murni, dengan suci yang tiada pernah kita ketahui. Bertahun lamanya, menunggumu dan berjaga – jaga.

Tangan mencengkram, meretas, merobek isi dada kedua. Kau tarik Aku, meminta tanpa suara agar Aku mendekamkan penisku lebih dalam genangan birahimu. Sudah kuyup kita. Dan yang ada ingin lagi yang Kau tuliskan dengan keringat pada kulit badan melekat jadi sekat, kita sepakat.

“Oh Tuhan, ini bukan haram jadah! Kami mencintainya dengan menanggung barah.”

Dan seluruh ruangan penuh desah kita yang gema berkelam, berbalasan kejam.

Sialan! Sialan ini malam dengan tumpahnya putih mani-ku pada buah dadamu yang kesekian!

– Di luar rumah, April Lima belas, Dua ribu dua belas.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s