Heart vs Mind.

Pagi, embun, bangkitnya matahari adalah ketakutan yang berkalung turban hangat menjingga di timur. Sebuah katalis bagi suram malam, dan benderang siang.

Apa itu siapa, Penyihir – pinyihir antah berantah dalam ketiadaan wujud. Meretaskan percik dan kembang ungu dalam lekuk senyum yang tanpa pernah kutahu, melebur dalam bening coklat mataku.

Apa itu siapa, hangatnya dingin yang membungkus salju dalam lingkar api. Berulangnya sedu – sedan  jadi persembahan lewat benang – benang suam yang menyeruak dari ombak dimataku.

Apa itu siapa, berpuluh wujud bak topeng enam kubus dadu. Mata terpedaya gelinding dalam cawan yang dengan rela Aku minum, berenang di dalamnya.

Hingga sampainya jingga melebur di kaki barat. Hingga perasaan yang diracun ketakutan, itu sebatas ibarat. Jadi, kukenang – kenang akhir senandung lama di penghujung berkata, “Bisakah kita tidak terlalu berharap di dunia ini, agar kita bisa hidup tanpa rasa takut?”

 

 

 

 

Salatiga, Juni dua puluh empat.

Digubah dari tulisan asli oleh @naminadini dengan judul yang sama

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s