12 – 07 -2012

                Tengah malam buta, dan Saya sedang asyik berpikir – pikir tentang apa yang akan terjadi dengan indonesia sepuluh, dua puluh, atau seratus tahun ke depan. Apakah manusia – manusia Indonesia masih akan menghadapi problematika yang sama. Masih terbelit hutang luar negeri dari IMF, WB, dll; apakah emas di bumi papua masih ada, apakah seratus tahun mendatang manusia – manusia Indonesia masih berkelahi karena beda agama, dan lain sebagainya yang memusingkan kepala dan nalar kemanusiawian kita. Apakah pemerintah tak jauh berubah. Korupsi merambat hingga ke elemen – elemen terkecil dari masyarakat. Dari pencurian triliunan rupiah sampai melanggar lampu merah di perempatan jalan oleh sepeda motor dengan tanki penuh bensin subsidi.

                Jika iya – dan semoga saja tidak – maka impian bahwa negara gemah ripah loh jenawi ini benar – benar terwujud – setidaknya lewat pengamalan pancasila – harus menunggu berapa lama? Atau mungkin hal – hal sederhana saja:  kapan anggota elite pemerintahan kita mau merasakan betapa panas dan macetnya jalanan di saat pagi dan pulang kerja bersama sama dengan masyarakat yang memberikannya suara dengan Cuma – Cuma ? Atau tentang petani – petani di desa yang tabi’a – yatba’u menyembah Allahnya sambil terus mendzikirkan rizki yang sampai matinya tak kunjung tiba karena berasnya kalah kualitas dengan beras dari Cina?

                Aku pikir, cara memperbaiki rumah yang hancur remuk bukan dengan menambal lubang – lubang di dindingnya, tapi dengan membongkar lagi dari fondasi dasar.

                Ya itulah, Manusia – manusia Indonesia mungkin harus berhenti meninggikan daun telinganya, dan mulai menajamkan reseptor neuron – neuron di dalam kepalanya. Hingga mental menerima suapan dari orang tua tak lagi menjadi acuan hidup. Tapi, itulah kita manusia – manusia Indonesia yang ada sekarang ini. Betapa agungnya sebuah amanah orang tua, sebuah amanah agama hingga kita seakan tidak peduli dengan berjuta – juta kehilangan apa yang sebenarnya milik kita sendiri. Contoh paling nyata, kalimat yang keluar dari mulut orang tua adalah petuah, adalah benar adanya, absolut- tak terbantahkan – sama transenden dengan Tuhan yang mereka percayai – . Dan manusia – manusia ini tahu, bahwa membantah adalah sebuah tamparan keras akan norma yang sudah dipelihara selama ratusan tahun. Aku ingin agar manusia – manusia indonesia di masa depan tak lagi berpegang teguh dengan apa yang kita sekarang ini sebut dengan kesopanan dan kebijakan. Agar apapun yang masuk dari telinga kita, tak lagi langsung disimpan dalam memori permanen, tapi diolah oleh logika. Dan di sinilah masalahnya, kita manusia Indonesia berdiri di atas pijakan yang sama dengan pijakan yang dipakai beratus – ratus tahun lalu oleh orang – orang tua kita, yang dicetak oleh model feodalis kuno. Dan norma – norma inilah, yang sedikit banyak mempengaruhi bawah sadar kita. Karena dari kecil, kita manusia Indonesia sekarang ini dibentuk oleh norma – norma dan aturan – aturan yang tak boleh dibantahkan dari agama dan sifat budaya. Percumalah kebudayaan kita yang dengan penuh kebanggan bertahan beratus – ratus tahun lamanya, jika itu tak membawa kita kemana – mana. Tidak maju, statis, dan tetap berdiri dengan alas kaki yang sama selama berabad – abad. Sedangkan di belahan dunia lain, manusia telah berlomba – lomba mengembangkan pikiran – pikiran, dan ilmu. Sedangkan kita di sini, betapa bangga dalam ketertinggalan pemikiran kita. Karena kita nyaman, dan malas membuat pijakan – pijakan baru. Di Indonesia sendiri, sudah memasuki tahun 2012. Secara gregorian, kita sudah terlambat dari benua biru dalam hal pemikiran sejak abad ke delapan belas. Ada sebuah lonjakan pemikiran yang krusial pada tahun 1900-2000. Setelah itu, mati. Kita sedang berputar dalam lingkaran setan pemikiran. Dan ini pula yang menjadi perenungan mendalam. Dimana manusia – manusia yang ‘dicerahkan’ seperti teralienasi dari dunia yang ia pijak. Dari dunia yang adalah asal muasalnya. Ini bukan cuma soal si kaya dan si miskin sekarang, ini perkara yang pintar semakin pintar, dan yang bodoh semakin bodoh. Atau mungkin juga, yang pintar sudah malah mengajarkan si bodoh. Dan si pintar merasa tak cukup pintar untuk mengajarkan si bodoh. Indonesia macam apa ini? Dimana benua biru dan manusia – manusia kulit putih sudah mencapai titik kulminasi pemikiran modern, dan di Indonesia sini waktu seakan berhenti sejak abad 18. Lalu berputar terbalik, mundur jauh dari titik awal kita berhenti. Kita kembali di zaman agama menjadi acuan utama dalam hampir semua aspek. Pemikiran – pemikiran radikal diperangi. Tak ada tempat bagi anti-tesis di sini. Disaat dialektik sudah diporak – porandakan oleh dekonstruksi di belahan dunia lain, kita bertahan pada aturan – aturan ‘tesis’ yang dibuat di zaman kegelapan. Indonesia macam apa ini, jika pemikiran – pemikiran baru, biarahi – birahi intelektual dikekang. Berhentilah kita bermimpi muluk – muluk. Rasanya pertumbuhan negara ini seperti pohon yang gigih menumbuhkan tunas baru, sedangkan akarnya kering kerontang karena tanah yang ia jejaki sudah tua dan tak pernah digemburkan.

                Aku takut, seratus tahun lagi Indonesia akan menjadi apa.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s