Sastra Revolusi

Keadaan Indonesia tercinta ini semakin berantakan, kalau mau digambarkan mungkin seperti Galleon yang bocor sana – sini di lambungnya. Masalah – masalah sosial, HAM, ekonomi, dll yang begitu banyak semakin memperburuk keadaan. Di dalam keadaan seperti ini, sebagian orang seakan tak peduli. Selama bisa makan tiga kali sehari, punya pacar, tidak terlambat ke kantor; maka semua akan baik – baik saja.

Tak terkecuali dengan perkembangan sastra mainstream yang berkembang pesat di Indonesia belakangan ini. Sastra seakan memisahkan diri dari realitas manusia. Sastra memiliki dunia sendiri, dengan halusinasi manusia – manusia yang ada di dalamnya. Perkembangan sastra di Indonesia Aku pikir, seakan semakin menjauh dari kenyataan bahwa sastra itu lahir dari tempat yang bernama Indonesia Raya ini. Dimana, keadaan sosial, politik, ekonomi yang begitu carut marut. Sastra justru tumbuh dengan orientasi yang absurd. Sastra Indonesia malah bergerak menuju sebuah dunia utopia, tak lagi menjejakan kakinya di bumi, tak lagi lahir dari tanah, tak dibaui oleh udara, dan tak terbakar api.

Sastra Indonesia berkembang dalam konsep hiperealitas, dimana orientasi karya – karya yang muncul berkisar pada romansa percintaan, suramnya duka di dalamnya, dan lain – lain yang masih tak jauh dari hal bernama percintaan itu.

Aku jadi teringat dengan keadaan Uni Soviet (Sebelum berubah menjadi Rusia) di zaman pra Revolusi Oktober sampai beberapa tahun setelahnya. Di dalam keadaan seperti itu, dimana Uni Soviet kala itu tak jauh berbeda dengan Indonesia saat ini, sastra memegang peranan penting dalam mengembangkan kesadaran sosial, perjuangan kelas, melawan kesewenang – wenangan. Sebut saja karya – karya Dostoevsky, Chekov, Gogol, Pusjkin. Hampir semua sastrawan, berusaha menunjukkan realitas sesungguhnya tentang apa yang sebenarnya sedang dialami semua rakyat Soviet pada saat itu, maupun apa yang mungkin saja terjadi. Sastra – Sastra realis sosial menjamur di antara sastrawan – sastrawan pada waktu itu. Dari Cerpen, Puisi, dan Novel semua bertumbuh dalam nafas yang sama. Betapa akhirnya karya – karya mereka bertahan hingga sekarang. Mungkin para penikmat sastra kontemporer tidak terlalu mengenal, atau mungkin tak pernah menyentuh karya – karya mereka.

Jadi, akan kemanakah Sastra Indonesia? Akankah menuju dunia Hiper-realitas seperti dunia yang digambarkan Umberto Eco, ataukah kembali menurunkan kakinya di bumi setelah semakin menjauh dari kiblat yang dulu diambil oleh sastrawan tua Indonesia seperti Manikebu dan Lekra pada tahun 60-an?

Sastra semakin kehilangan giginya, semakin tidak realistis.

Dan tak lupa, betapa manusia – manusia Indonesia semakin menikmati individualitasnya. Dimana bumi ini hanya perkara Aku dan Dia dalam romansa.

Lalu, apa yang akan anak cucu kita baca kira – kira lima puluh tahun nanti?

 

My idea is always to reach my generation. The wise writer writes for the youth of his own generation, the critics of the next, and the schoolmasters of ever afterward. – F. Scott. Fitzgerald. (Penulis The Great Gatsby, Novel yang mengkritik dunia bohemian Amerika pertengahan abad ini. Oh Novelnya bagus, Aku udah baca. he he he.)

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s