Indonesian Population Control?

Mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia. ( Wikipedia. “Mudik.” http://id.wikipedia.org/wiki/Mudik (diakses tanggal 19 Agustus 2012))

Mudik adalah salah satu dari ‘tradisi’ besar oleh pemeluk agama Islam di Indonesia. Setiap tahunnya, ribuan orang melakukan migrasi besar – besaran menuju setiap pelosok daerah untuk merayakan Idul Fitri, sekaligus bersilturahmi dengan sanak saudara.
Kegiatan yang sudah menjadi rutinitas di Indonesia ini, adalah salah satu aktivitas massa yang sangat tragis jika kita melihat dari banyaknya korban jiwa yang berjatuhan di setiap tahunnya. Sumber dari Mabes Polri menyebutkan bahwa pada tahun 2010, jumlah korban yang meninggal mencapai 574 jiwa dari  2.382 kasus kecelakaan. Pada tahun 2011, jumlah korban meninggal meningkat menjadi 633 jiwa dari 3.818 kasus kecelakaan. Pada tahun 2012 ini, terdapat 340 korban jiwa dari 1.995 kasus kecelakaan yang hanya berada dalam rentan waktu H-9 hingga H-4.

Fenomena yang terjadi secara stagnan dari tahun ke tahun ini, seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah sebagai penyedia sarana – prasarana transportasi. Apakah Statistik ini akan terus berlanjut? Apakah kecelakaan dan korban jiwa adalah bagian dari ritus tahunan yang harus ‘dijalani’ oleh warga Indonesia?

Kecelakaan yang terus berlanjut dan ketidak-acuhan pemerintah atas permasalahan ini mengusik batin Saya. Jangan – jangan, mudik ini adalah salah satu metode Population Control yang sengaja dilakukan oleh pemerintah sendiri? Mengingat, tingkat kecelakaan seakan tidak pernah berubah. Jalur arus mudik yang dipakai oleh masyarakat adalah jalur – jalur biasa yang sudah dipakai selama bertahun – tahun. Kira – kira, dalam kurun waktu satu tahun. Bisakah pemerintah bisa memperhatikan kelayakan dan kemudian memperbaiki jalur – jalur transportasi tersebut?

Isu Population Control ini ternyata bukan hanya terjadi di saat mudik lebaran saja. Di daerah terpencil – Saya ambil sampel di Propinsi Maluku, P. Seram bagian utara, – bisa dilihat bahwa para penduduk lokal yang mendiami daerah tersebut semakin tersingkir dari tanah milik mereka sendiri. Tersingkir oleh apa? Para penduduk tersingkir oleh datangnya transmigran – transmigran dari pulau Jawa. Di P. Seram, kepemilikian tanah biasanya diatur oleh adat, atau oleh kepemilikan lisan secara turun – temurun. Dengan datangnya para transmigran tersebut, masyarakat setempat mulai tergeser tempat tinggalnya dikarenakan para transmigran memiliki surat kuasa tanah oleh lembaga pemerintah. Ini sungguh sebuah ironi bagi masyarakat yang mendiami tempat tersebut selama berpuluh atau mungkin beratus tahun. Nilai – nilai adat, budaya secara perlahan kemungkinan besar terkikis oleh hilangnya identitas – identitas yang dalam hal ini dipengaruhi oleh teritorial dan kepemilikan suatu daerah. Apakah lewat transmigrasi juga, pemerintah sengaja mau melakukan ‘pembunuhan’ terhadap adat-istiadat dan budaya pada daerah – daerah di luar Jawa? Saya hanya menduga – duga dan beropini, tapi dampak yang terjadi serta maraknya kasus kepemilikan tanah oleh warga asli di P. Seram semakin hari semakin meruncing. Alhasil, pernah terjadi kasus pengambil-alihan tanah oleh sekelompok Mahasiswa UKIM Ambon beberapa tahun lalu yang secara patungan membeli kembali sebidang tanah kepada seorang nenek di sana. Padahal, tanah tersebut adalah milih si nenek itu sendiri. Hal ini dilakukan agar beliau nantinya bisa punya bukti kuasa yang legal terhadap kepemilikannya. Jadi, bisa kita lihat salah satu efek paling buruk dalam proses transmigrasi, yang entah pemerintah menyadarinya atau tidak. Efeknya menjadi seperti semakin mirip seperti yang dilakukan transmigran Inggris kepada suku Indian beratus tahun lalu. (Salah satu artikel tentang perlawanan terhadap Imigran di P. Seram ada di link ini.)

Dari kedua masalah di atas, kita bisa melihat bahwa populasi penduduk Indonesia sedang berada di ambang batas hidup dan mati. Pemerintah kita yang harusnya bertugas untuk menyelamatkan dan melindungi warganya, sedang sibuk dengan milyaran rupiah untuk membuat gedung DPR baru, kantor KPK, mobil dinas dan trilyunan tunjangan – tunjangan yang diberikan kepada para pejabat. Ratusan kilometer dari tempat mereka bekerja, jutaan masyarakat sedang bergulat di jalanan sembari cemas akan selamat, ataukah mati dalam jiwa dan raga.

One death is a tragedy; one million is a statistic. -Joseph Stalin

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s