Serenade Musim Penghujan

Cakrawala muram membelah gemuruh dan kerjap caya menedung air yang menghujam sambil, merekah di ari – ari merah tanah. Sebentar, jingga saga tertelan kepala cemara.

Merah Semut Kecil, menanjak kuyu pada kukuh pilar bertahun merubah marun. Kejauhan di dasar, persembunyian, dapur, dan permandian, jiwa ringkih sekarat dengan mata coklat berkarat mengambang dalam patah asa setelahnya nanti puasa.

Menanjak pertama.  Bersua semrawut nadi alir di tubuh jasad pohon tua. Pipit mendengkur, mendekap dalam anyam kering ilalang dan rerumputan. Semerbak sayang dan kehangatan. Cinta bergelayut di paruh hitam putih dan jejaring kelabu halus sayap bulu beludru.

Menanjak kedua. Akasia, kekar ubi, kering mantel pohon pisang meregang nyawa. Akar kelakar menelan basah dalam sakratul maut. Di pucuk kuku jemari, terbit hijau mengerling tanda sedia berkenaan serah pada matari.

Menanjak ketiga. Lirih mampus daun rumbia menjaring ketiadaan. Persinggahan dalam lakon abdi cucuran sebelum tumpas di pelimbahan. Beri – memberi dari tulang isi ayal dan keteraturan. Menggelapar dan menggigil, lapar dan degil.

Menanjak keempat. Rayap berpesta setumpah ruah istana. Sudah penuh dikerat, si tua bangka melangkah limbung. Gemerisik geligi – belulang serakah. Keparat terjembab lemas di sela laskar menyanjung titah sang raja. “Menderita makhluk, Aku tidak!” katanya.

Menanjak kelima. Asap menggantang di pembakaran, bunda panaskan kuali-  memeluk air nyaris mati beku. Namaku disebut tiga kali, kejahatan Aku tabiat. Khusyuk lafas doa kuserahkan khalik entah – ini tanbihat-. Aku berlalu bisa jadi. Mengintip dari, balik gugus papan kayu sekena hati.

Merah Semut Kecil, berlalu. Bara api semangat jadi benalu. Cengkram merekat di benak, karam. Musafir menyibak khuldi negeri baru sang Adam. Beranak – pinak sampai cakrawala muram membelah gemuruh guntur  dan kerjap – kerjap caya. Menedung air menghujam sambil merekah di ari – ari merah tanah. Di jingga saga tertelan kepala cemara.

(Cerita ini adalah rekam jejak pada suatu  sore hari penghujan bulan November tahun 1997. Saat Aku duduk di depan rumah (gubuk) sembari sungguh memperhatikan semut merah kecil yang menyelamatkan diri, karena sarangnya diterpa genangan air hujan. Neraka yg turun dalam bentuk air bagi mereka, bersamaan dengan surga yang tercurahkan bagi tunas – tunas muda di pucuk pepohonan, hangatnya kawanan aves di sarang, kerjasama atap rumbia di atas rumah, pesta pora rayap di batang pohon rendah, dan ibu yang memasak air panas untukku mandi kala itu . Kupikir, selalu ada yang baik, seiring dengan ketiadaan baik itu sendiri. )

Untuk: 30HariLagukuBercerita, kutulis ini sambil mengkenang – kenangkan hari lalu, diiringi lagu Iwan Fals: Satu.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s