Pengkhianatan

Bulan separuh pucat di malam mayapada. Dari bumi terlihat borok menganga memantulkan nur perak yang pasi. Dia berdiri sambil menggenggam obor yang nyaris redup, di belakangnya berbaris selaksa pasukan lengkap siap tempur. Disibakkan belukar sedikit, agar jelas terlihat pemimpin pasukan lawan. Kumis dan cambang diusapnya berulang, pertanda cemas dan ketakutan. Ditatapnya satu persatu pasukkannya, mata mereka menyala merah, patriot siap menggempur degilnya manusia gila. Kecemasan di matanya kabur oleh remang – remang suluh. Keringat dingin menetes kadangkala. Seluruh tubuhnya dingin bukan karena angin, bukan pula cuaca.

Itu dia orangnya!” ucap salah satu anggota pasukkannya. Dia tak bergeming. Benaknya berkecamuk lantaran gundah antara budi baik, romansa,  dan tiga puluh keping uang perak sebagai ganjaran mahar untuk pengkhianatan.

Tunggu apa lagi, kami tunggu aba – aba darimu, Judas.

Telunjuk memilin ujung jubah coklatnya. Kakinya dingin, keringat tak henti muncul berkali walau malam mengharuskannya menggigil. Mulutnya menganga ragu, pemberontakan jiwa dan tubuh. Cemas, dia berbalik lagi- mengangguk hampa. Dibenarkan tata jubahnya bagai ingin bertemu kaisar Roma. Dia mulai beringsut keluar dari persembunyian meninggalkan pasukannya di balik belukar, mengayun langkahnya yang berat bak dipasung besi tua bekas pembuatan jembatan. Keringat dingin terus mengucur dalam remang, gigil semakin hebat dalam batinnya tentu, langkah dipercepat tapi dia tak merasa jua.

Rabi, selamat malam.” Kalimat meluncur menggelepar dari mulutnya, setelah dekat cukup pada manusia yang sedang berdiri dengan pasukannya. Rabi itu tak menjawabnya, hanya membalas dengan tatapan yang dingin tak terperi. Dimatanya, Judas merasa bisa berkaca. Wajahnya buram di sana, retak dan pecah seperti remuk cangkang telur burung dara. Darah serasa mengalir semakin deras hingga terasa di setiap lekuk di bawah permukaan kulit Judas.

Mulutnya tak mampu berkata lagi, didekati lambat – lambat,  lalu dikecup pipi sang Rabi dengan cinta yang tiada. Dengan bibir yang dingin dan mengelupas hampa bersentuh pada pipi yang hangat.

Adalah pengkhianatan yang kau samarkan dalam cinta, Judas?” Rabi menjawab dengan tenang. Judas gemetar dalam separoh kegelapan taman. Pasukan pihak sang Rabi mulai membaca gelagat buruk, dikeluarkan pedang dan belati dari sarungnya. Rabi mengayunkan tangan kanannya, memberi pertanda bahwa itu tak perlu dengan mulut yang tetap kelu.

Dari balik semak belukar tadi, muncullah sepasukan Romawi bawahan Judas. Bersenjata lengkap, tameng dan pedang, beberapa berbaju zirah mirip kuda Troya sedang hamil. Seketika tempat menjadi terang oleh nyala suluh yang jumlahnya berpuluh. Kedua pasukan berhadap – hadapan dalam jarak kurang dari hasta tiga puluh. Judas beringsut ke belakang pasukannya, bukan takut sebab, benaknya sembab. Sendi – sendinya serasa hampir patah terkulai, darahnya kering seketika, putih bak batu gunung yang lama disepuh belerang. Rabi tahu betul apa yang Judas rasa, mahal benar memang pengkhianatan nyatanya.

Betul engkau Yesus raja Yudea?” kepala pasukan Romawi memecah sepi membaranya atensi. Rabi tak menjawab, ditatapnya wajah Judas yang pucat dalam kegelapan dan kerumunan ‘nusia.

Akulah Dia.” Jawab Rabi dengan suara yang lebih dingin dari embun yang menggantung di pucuk akasia kala itu, atau tengkuk dan telinga Judas sejak tadi.

Kamu harus ikut dengan kami!” bentak kepala pasukan Romawi.

Seketika, Simon –salah satu dari anggota pasukkan Rabi- menghununus pedangnnya. Memberi tanda perlawanan. Semua siap bersitegang, siap untuk darah tertumpah. Pasukan Romawi mengatur posisi, membentuk formasi tempur jarak dekat. Di sisi lain, Rabi berada terdepan. Tanpa senjata, tanpa tawa, dan geming. Simon tak kuasa menyerahkan manusia pujaannya untuk ditawan, ditebasnya telinga sang kepala pasukan lawan. Jatuh ke tanah, bersimbah darah di kegelapan. Amarahnya memuncak, merah mukanya karena bersiap mati ditikam kemudian. Jadilah ia pelindung sang Rabi, ratna mutu manikam dan intan baiduri dambaan jiwanya.

Sang Rabi menunduk ke tanah, diambilnya daun telinga yang baru saja berpisah badan. Dikembalikan lagi ke tempatnya seharusnya lewat sebuah mukjizat yang tak seorang-pun di situ tahu lafal mantranya. Tercengang sang kepala pasukan Romawi, terdiam menatap dalam mata sang Rabi sambil memegang telinga yang tadinya telah tiada.

Telah kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Jawab sang Rabi sebagai penanda berakhirnya perang sekelumit gerombolan pasukan.

Sejenak, sang Rabi menatap dalam wajah Simon lalu berkata pula, “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?

Gubahan dari babak ‘Taman Getsemani’ pada Injil Matius 26.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pengkhianatan

  1. Ceritaeka says:

    Eh, ada kalimat muncullah pasukan bawahan Judas..
    Hmm memang Judas sesungguhnya panglima atau atasan yg punya bawahan sepasukan tentara? Apa mungkin maksudnya bawaan?

    Interpretasinya bagus! Sukak.

    • KorekApiKayu says:

      Memang sengaja dibikin ‘rancu’ Non, awalnya sih malah mau dibikin pasukan bawa bedil cuma kurang sreg klo bawa bedil malah akhirnya tonjok2an😀
      ‘Panglima/atasan’ cuma semacam analogi saja. hihihi.

      Dankje sdh berkunjung Nona Eka.

      p.s: Eh, kk ikut #BN2012 ?😥

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s