Tiga Empat Sembilan

hampir mati malam
pagi berkata; wa’alaikum salam
di sudut bulat dinding nan runcing
perempuan ombang-ambing menancap lembing
di tulang dan daging

sekarat jiwa
sekerat asa mahadewa
masa lalu nyaris ilusi
jam maju metamorfosa delusi

menunggu
dalam gagu
sepi lagu
ragu

perahuku merapat di dermaga setelah
menghatur kecam dan tanya
dimana imam dan pendeta berisalah
apa Tuhan yang empunya?

apa surga tetap ada,
bagi yang telah robek selaput dara
tercabik bentuk remuk vagina
dikala hari muda?

siapa kita ‘nusia
menjadi tuhan atas dia?

– Salatiga, di subuh lembah prostitusi

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s