Wild Honey Pie

Ambon, 19 Januari 1999

Kepada langit yang berubah warna,

Hujan hitam, kepulan pitam. Biji dendam mulai masak, dipasak masam mulut meriam, anak cucu karam, anak cucu geram. Jauh, hilang di temaram. Kepada subuh dan pagi -pagi buta, di tiap mata primata.

Mantra – mantra mengelupas dari dalam mulut, halimun kalut terpancang di janggut. Moyang-moyang turun dari gunung, patahkan pohon – pohon, diantara tangis, doa, dan mohon terancung, kerubung, anak-cucu limbung. Moyang – moyang datang dari laut. Rubuhkan ganggang, karang, dan jangkar. Menantang rentang carut-marut dan sengkarut. Di buih ombak mendebar, di semerbak mesiu tersebar.

Ada memoria, ada euforia.

Apa ada paranoia?

Jangan ada darah di kebaya;

 di baniang,

cele,

cengkeh,

dan pala.

Jangan ada.

tanbihat: Ini bukan surat, bukan pula puisi, hanya hasil fermentasi memoria, historia, hajat, dan syafaat.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s