I Will

The Cynic: Why Do We Preach the Way We Preach? ~http://anabaptistly.wordpress.com

Vacant House at Cleveland, 8 February 2010

Kepada pengkhotbah – pengkhotbah,

Selamat datang gerombolan sosok flamboyan, yang menghidupkan ayat – ayat lalu memanggilnya Tuhan; dalam tali laso. Dengan kuas, meretaskan imaji transenden yang memapat simetris bak kubisme Picasso. Dengan kisah – kisah epik dan semangat patriotik, anak manusia dari Nazareth difusi jadi putih kulit karbit. Lalu, pada suatu masa ekskalasi. Terjadi gelombang pasang eliminasi sinagoga, jubah yang kau pinjam, janggut, dan prosesi – prosesi macam Yom Kippur.

Namun pada suatu waktu; nomad yang tak bisa menembus ruang dan waktu, rekontruksi faedah sedap narwastu, yang kaku dan jadi batu; pada itu harus runtuh berkeping, meronta hingga compang-camping, menyibak misteri penutup caping. Berdinamika. Hidup dalam dialektik tiada ujung, dialektis dialektika, melebur dalam haru-biru indikator varia etika.

Menjadi telapak yang tahu nama tanah yang dipijak.

Menjadi tanah yang tahu kapan ia perlu dibajak.

Sandra Livingston

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s