Surat Salah Arah

by ~after-the-party @deviantart

Telaga membiru, mengendapkan lumut yang bertahun. Pohon – pohon jati dan salawaku menguning kulitnya dengan bersemu-semu. Sementara jauh di tanjung, ombak dan badai berkelahi – saling tikam menghujam tusuk-.

Rasa – rasanya, rumah begitu jauh, tapi kau terasa jauh lebih dari begitu. Aku bangun setiap pagi, memenuhi ingin dan perintah komandan kompi. Memenuhi tugas dan tanggung jawab sebuah konsep dispilin. Disiplin yang keras, lalu lama kemudian melunak – atau mungkin diriku yang melunak? –

Karena hari – hari semakin membuat jemu. Aku dan kawan jadi semati batu dan kayu yang dilalap api. Musuh merambat perbatasan. Kami kokang senjata, senjata yang rutin kami bersihkan dengan kain lusuh bekas sobekan celana. Menghabiskan peluru pasokan dari pusat komando, membantai apa yang datang sebagai hiburan. Ya, di sini tak ada gedung bioskop, tak ada orkes keliling, tak ada topeng monyet, dan pasar malam. Kamilah pasar malam itu, proyektor bioskop, organ, dan monyet – monyet dalam kerangkeng dengan hafalan ayat – ayat seperti: “Sarimin Pergi ke pasar”, “Sarimin menembak musuh yang melewati perbatasan dengan gagah berani sebagai penggenapan lencana pahlawan keluarga!”

Nona, nona. Hari ini tanggal tujuh bulan Mei. Aku dan kawan – kawan sedang melakukan hal yang sama –menggosok senjata agar tak muncul jamur-  saat kutuliskan ini padamu. Tadi, ketika matahari sayup – sayup jatuh di pelimbahannya di ujung horison, ada belasan manusia menerobos pagar pembatas. Kami hujani dengan peluru kuning yang baru dikirim seminggu lalu. Kami tertawa terbahak – bahak melihat tingkah mereka yang panik berhamburan menerjang peluru dari moncong bedil kami. Beberapa dari mereka mati. Kami kuburkan seadanya di liang lahat tiga meter dalamnya. Setelah itu, belantara kembali sunyi-senyap dicekam integras teritori nasional.

Apa lagi yang kiranya bisa kuceritakan padamu tentang hari – hariku yang gelap bersama hitam yang turun dari langit dan beningnya embun dari udara heroik dan pakta – pakta negara?

Ia nona, aku mengingat – ingat yang telah lalu. Hal – hal yang pernah kita ceritakan tentang fiksi dan fakta, tentang bahasa dan politik. Aku sering kacau dalam hal itu, tapi tetap kuceritakan saja padamu – walau mungkin kau tahu, aku terkadang salah – tapi tepekur kau dengarkan dengan saksama sampai kantuk datang menyergap. Padahal, pada beberapa hal kau lebih tahu dariku. Tapi inilah rindu, menohok kebosanan dan kesabaran yang menjemukkan pada suatu waktu tertentu.

Jadi, ini ulang tahunmu. Dan aku tak sempat mengirimkan apapun. Dan surat ini juga akan sampai tak tepat waktu karena materai murahan dan tak kukirim lewat kilat khusus.
Semoga nanti datang hari baik. Semoga datang waktu dimana aku dan pasukanku ditarik dari garis perbatasan atau para penerobos itu lelah untuk menyusup masuk atau setidak – tidaknya, peluru dan senjata berhenti dipasok karena pusat komando kesulitan dana. Agar setelah itu, aku bisa pulang ke rumah. Melihat senyummu yang semakin membuat rindu. Melengkung di atas laut yang menggelap. Atau suaramu yang seperti musik di telingaku berubah menjadi erangan burung – burung serindit kepada seantero alam.

Selamat ulang tahun, nona.

Mei, Tujuh dua ribu tiga belas. Pada suatu ketika.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s