Percakapan Saat Kelas Filsafat Umum, Semester Enam

Your Philosophy Teacher ~dCTb @deviantart

Di sebuah kelas, awal semester, sebuah perguruan tinggi yang tidak terlalu. Dududklah beberapa orang mahasiswa. Diantaranya ada mereka, mereka, dia, dia, dia, kamu, dan saya. Lalu pecahlah keheningan –sindrom paska liburan- dengan pertanyaan, “Siapa kamu?” oleh Dosen.

Mereka yang duduk bergerombol di sana menjawab, “Aku adalah satu untuk semua, semua untuk satu.”

Si dosen hanya tersenyum – senyum mendengar jawaban dari mereka. Masih nampak ketidakpuasan pada paras-rupanya, lalu membalas jawaban mereka; “Semoga satu tak pernah hilang dari kalian, sehingga semua tak jadi bingung nantinya”

Si dosen menoleh ke mereka yang lain, mengangkat kedua alisnya dan menunggu jawaban dengan sedikit menantang.

“Kami adalah apa yang kami sepakati tentang kami.” Jawab mereka yang itu.

“Aku belum membuat kesepakatan apapun dengan kalian.” Timpal si dosen.

Dia berjalan menuju ke belakang kelas. Mendekati beberapa dia yang sedang duduk terpisah.

Si Dia yang pertama menjawab, “Aku berpikir, maka aku ada.”

Dosen hanya tersenyum kepadanya. “Cogitu ergo sum, eh? Soekarno tak pernah ada, karena dia sudah tak berpikir sekarang. he he he.”

Si Dosen memalingkan mukanya kepada Si Dia yang kedua.

“Siapa kamu?”

“Aku ada, karena cinta. Bapak juga.”

“Cinta apa? Cinta bapak yang kemudian mengkangkangi ibuku? Bapakmu juga begitu? Atau bagaimana?”

Si dia yang kedua terdiam. Sepertinya sudah tak tertarik dengan kelas ini karena merasa sakit hatinya.

Si Dosen menghampiri Si Dia yang ketiga.

“Aku adalah ciptaan Tuhan.”

Si dosen lagi – lagi tersenyum lalu menjawab,

“Dari debu tanah?”

“Iya.”

“Aku tak bertanya tentang siapa yang menciptamu, aku ingin tahu siapa kamu.”

Si Dia yang ketiga mencoba berpikir keras. Tak bisa dijawabnya pertanyaan itu.

Si Dosen datang dan menghampiriku, membisikan pertanyaan yang menjengkelkan itu di telingaku dengan terkekeh-kekeh.

“Jadi, siapa kamu?”

“Aku adalah apa yang bapak pikirkan tentangku.”

“Aku pikir kamu batu.”

“Maka begitulah.”

“Tapi, siapakah kamu. Dalam pemikiranmu sendiri?”

“Entah.”

Aku sudah malas berpikir, jadi aku selesaikan saja pertanyaan itu dengan penangguhan seperti itu. Ah, mungkin baiknya tadi aku tak menjawab.

Si Dosen berjalan maju ke depan kelas. Memasukkan semua materi dan kertas yang ada di atas mejanya. “Pelajaran selesai.” Ketika dia hendak membuka pintu, dia menoleh kepadamu.

“Siapa kamu?”

Aku, Dia, Dia, Dia, Mereka, Mereka menatap kepadamu. Menunggu jawaban.

– Salatiga, Semester Enam, Tahun entah.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s