Pribumi

Alone Boy In Beach ~Tri Joko

Malam semakin larut, larut menuju pagi yang semakin jelas. Jelas membuka takbir dan tabir kemahakuasaan alam. Bulan bulat yang tadinya menggantang di pucuk muda daun kelapa telah lengser. Lengser digantikan daun hijau yang cepat sekali tumbuh. Ombak telah datang, menghantar pasir dan kerikil karang untuk menyatu dengan lautan. Mungkin, sebegitulah hidup ini. Membiarkan telapak kaki mencengkram bumi kuat – kuat, sampai pada suatu ketika, datanglah ombak dan mengembalikan kami ke pangkuan alam. Daging membusuk, tulang menjadi fosil, pikiran kekal. Kekal dalam kebijaksanaan yang ditunggu untuk diterpa puting beliung ketidak-tetapan hidup.

Hidup menjadi gelap –gulita oleh dian yang gagal menyala- bersama awan hitam dan hujan dingin yang gugur satu-satu. Dari gunung, angin meniup seperti keluar dari nafas serafim yang meniupkan sangkakala tanduk domba.  Meniupkan pergi tempat tidur jaring yang sudah kubuat dari anyaman rotan, kulit pohon kelapa, dan daun-daun kering -bertahun lamanya-.

Di ujung mata, di kulit garis air laut datang setumpuk fregat asing. Membawa emas dan pertolongan. Pertolongan dan epos tentang diriku dan mereka jika nanti pulau ini tenggelam. Aku semakin ketakutan  -jauh melebihi ketakutan akan laut yang menelan aku- membayangkannya. Jadi, kuputuskan untuk lari masuk ke dalam rimba belantara. Berlindung di balik pohon – pohon tua, di bawah gelas – gelas tanah liat berisi abu leluhur. Di kejauhan, orang-seorang mulai turun dari kapal. Membawa kitab suci di tangan kiri, pedang –adapula bedil- di tangan kanan. Membawa ketenangan dan teror, ketenangan dan horor. Aku tak tahu harus lari ke mana. Kuasah parang, kugenggam salawaku (tameng). Aku lari menerjang bibir pantai. Menerjang, menghadang dengan keputus-asaan luar biasa.

Mereka berpuluh ribu banyaknya. Menyeringai seperti serigala lapar dengan mata merah menyala.

Serempak. Meledaklah mulut bedil, dibaptisnya aku dengan pedang. Darah mengucur dimana-mana. Tubuhku hancur penuh luka, tersungkur di pasir, masih hidup. Satu persatu mereka melangkahi tubuhku kemudian merengsek masuk ke tengah pulau.

Burung – burung pombo turun dari angkasa lazuardi menghampiri aku untuk terheran – heran, ombak kecil berkali datang membasuh nganga luka yang perih, ombak besar sekali datang memeluk tubuhku untuk menyatu dengan laut. Menyatu bersama leluhur dan pendahulu.

 

– Salatiga, lama sekali.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s