Spokenwords #1

Classic Microphone ~trunge @ deviantart

Pancasila
Panca sila atau panca-asusila?

Lima kaki yang menopang berdirinya sebuah negara.
Negara yang dalam hati kecil sebagian kita masih bertanya,
Siapakah itu Indonesia?
Sementara Aceh sudah tiada dan Papua entah di mana
Sementara Jakarta perlahan berubah menjadi barometer kemajuan negara
Sementara bumi Papua tetap menunggu kapan kandasnya korporasi penambang emas dan tembaga
Dan manusia mulai mati satu-satu di pengungsian Rokatenda
Lalu aku duduk di kamar sambil berdoa dan menghayati nilai-nilai pancasila
Ketuhanan yang maha esa
Ketuhanan yang dipercaya mencipta satu semesta
Ketuhanan,
Satu Tuhan yang tak ada rumah-Nya -Penyembah Tuhan yang miskin- terlantar dan dingin, karena ormas dan pemerintah daerah berhak menolak tunduk pada surat izin
Satu Tuhan yang disembah dalam berbagai cara, sehingga mesjid Ahmadiyyah sunyi takbir, tinggal di penampungan kekurangan air – tidur berkalang tanah berpasir
Tuhan yang mandul karena tak bisa disembah dalam berbagai cara-ditafsir dari bermacam karya
Sehingga mereka yang beriman boleh meludah dan menumpahkan darah
Karena aturan – aturan lanjut usia lebih mahal harganya dari nyawa manusia
Ketuhanan yang maha esa
Ketuhanan yang dipercaya mencipta satu semesta

Lalu aku tepekur di kolong jembatan seraya melafaskan ayat: ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’
Karena beradab telah dipugar, dan biadab telah tertukar
Hanya adab menimpa manusia lurus
Sedangkan azab kepada mereka yang berbeda arus
Kemanusiaan yang bukan manusia
Hukum dan norma ruminansia
Adil yang lahir dari peluru saat meninggalkan laras bedil
Bersarang di dada mereka yang membela tanah perkebunan dari kumpulan orang berhati degil
Lalu adab ada hanya sebagai panduan kitab dan penawar yang mujarab
Adil dan beradab,
Beradab dan adil,
Adil multitafsir
Adab yang berulang ditaksir

Sementara jari-jemari menyatu membentuk Persatuan Indonesia
Satu Indonesia
Satu dalam beda bumi persada
Yang kemudian aku bertanya-tanya apa yang menyatukan, apa yang membeda?
Apa yang membuat beda jadi satu dan satu jadi beda?
Apakah boleh kugambarkan sebagai setir, ban, rantai pada sebuah sepeda?
Apa yang membuat beda jadi satu dan satu jadi beda?
Sehingga bocah di lembah Beliem harus berjalan puluhan kilometer sehari, harus sama dengan anak pejabat yang setiap hari naik mercy?
Atau mengapa anak di kampung pesisir pulau Seram harus menanggalkan adat leluhur
Tergusur seragam merah-putih, ilmu, dan budaya demi memenuhi pelbagai macam prosedur-prasyarat ijasah, gaji, masa depan, dan standar persatuan hidup makmur?

Perbedaan yang menyatu
Menyatu yang berbeda

***

Aku tak punya waktu berpikir, karena perut kosong dan badan meminta makan
Karena Aku bijak pada diriku sendiri
Sebagai bagian dari rakyat dan kerakyatan,
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan
Sementara Aku tak merasa diwakili dan hidup adalah perjuangan berdiri di atas kaki sendiri
Dimana kebijaksanaan tak lebih dari ayat – ayat maklumat
Dan para pemimpin dan yang mewakili lupa apa itu hikmat
Lalu aku bertanya-tanya, siapa yang diwakili?
Siapa yang dimusyawaratkan?
Siapa yang diperjuangkan?

Karena manusia Indonesia melafaskan doa dan syafaat ketika ada di bilik suara
Menggantungkan impian sederhana kepada senoktah coretan dan pilihan sebagai perkara
Perkara mereka sadar,
yang dipilih tak pernah menatap wajah yang memilih barang sekilas
Dimana mereka sadar,
yang dipilih akan dapat berbagai tunjangan dan mobil dinas
Dan mereka sadar,
mempertaruhkan perubahan adalah lebih baik dari tak berbuat suatu apa
Mereka sadar,
Mereka coba mengubah barang sekadar
Karena mereka telah lelah dan layu bertanya akan keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Karena sawah sudah tiada, kalah di meja sengketa
Karena rumah sudah tiada, disulap menjadi apartemen dan pusat belanja
Karena membunuh atas nama agama lebih ringan hukumnya dari mencuri ayam milik tetangga
Karena korupsi adalah hal biasa di televisi dan kolom – kolom berita
Dan kasus – kasus yang raib dari peradilan adalah perihal semestinya

Sehingga dalam kelelahan hidup mereka tak sempat bertanya,
Keadilan itu apa, dan sosial itu siapa?
Pancasila itu apa, dan Indonesia itu yang mana?

– Salatiga penuh gundah-gulana.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Spokenwords #1

  1. Masya says:

    dan itulah kenyataan di ktg pung negri kaka. miris

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s