Spokenwords #2 – Menggugat Indonesia

LivePixes – 5-tab @ deviantart

Setia dan patuh
Setia dan patuh
Seperti lumut kepada batu
Banyak kepada satu
Beribu kepada penyamun dan penipu

Sebelum lancung aku berkata
Bolehkan aku bertanya
Pernahkah hati patah,
karena arti dan muslihat?
Hingga kita merasa tertipu
Tertipu oleh rekan, sejawat, hingga pejabat tinggi negeri
Penipuan lewat janji, buku, dan imaji enam meter persegi
Yang dipancang di setiap perempatan,
di layar kaca hingga desas-desus di dalam kantor pemerintahan?
Hingga sempat hati bertanya di mana letak kesetiaan?
Kesetiaan
Kesetiaan dan patuh
Kesetiaan yang jatuh rubuh, hilang lenyap dimana
Kasetiaan yang tulus

Sehigga atas nama kesetiaan kita berhak menggugat
menggugat sejarah dan kedirian dari bermula
dari Gangga purba hingga layar LCD
semenjak belum ada Kutai hingga Indonesia kini

Kata sejarah,
Mereka datang dari sana,
Dari Asia
dalam babak eksodus manusia purba
yang kemudian berdiri kuil dan pura
menjadikan tanah ini jadi satu warna
dalam memandang Syiwa kemudian paras Gautama
melengserkan kejawen dan segala macam bentuk agama suku
hingga tak lagi dengan alam kami bersekutu

Hingga berabad kemudian,
pedagang – pedagang arab bertandang
sambil bertukar rempah dan menitipkan konsepsi satu Allah
Konsepsi yang kemudian menuding bahwa apa yang dilakukan leluhur salah
Dan ritus – ritus,
serta situs – situs dimusnah
Lalu mabuk teologis baru ala timur tengah
mencengkram kita dalam teror surga dan neraka
ditambah invasi Portugis dan Belanda
mencecoki figur baru berkulit putih bernama Yesus
dan ikon spiritual yang disebut rohulkudus
menimpa jelata dengan membabi buta
membuat lupa selaksa
Dimana sang khalik-klasik kini ada?
Siapa kini diri kita?
Dari mana datang nama?

Kemudian,
tiba abad dua puluh satu,
dimana politik bergejolak
dan tahta paduka raja dirombak
Dengan semangat kemerdekaan yang menyala-nyala
keagungan ilmu pengetahuan merajalela
Pengetahuan hasil renung dunia barat
yang ditorehkan dalam berbagai macam buku,traktat, dan diktat
Dalam semangat resolusi revolusi
Revolusi dunia lama yg runtuh bersama Bastille saat dilalap api
Revolusi buruh yang merobohkan tirani
Revolusi koloni yang melahirkan selembar deklarasi dan pembalikan nilai-nilai
Akan tetapi, keadaan tetap sama

Tetap sama seperti sedia kala
Dan semua berantah tadi dibawa ke negeri ini
Menjadikan negeri menjadi negara
dan menjadikan negara bagian dari kelanjutan ankara
Mereka,
orang – orang dari belahan bumi sana
kembali untuk kesekian kali
lalu menaruh telunjuk di ujung hidung
dan membagi manusia dalam berbagai kategori
memberikan defenisi orang asing atas pribumi
mengalungkan acuan baru sebagai pemindai
menancapkan defenisi – defenisi ke dalam kepala
dalam politik, ekonomi, sosial hingga moral dan strata

Dalam euforia yang sama,
kita membuka mulut menganga lama
menelan bulat-bulat tanpa memamah
Mabuk pengetahuan ala eropa
Prestasi dan prestise
Hingga lupa kita bertanya,
Siapa kini diri kita?
Dari mana datang nama?

Dalam setiap ketenangan dan kegarangan,
kita menjadi asing

Dalam setiap kemenangan dan kemalangan,
hampa menyingsing

Sedangkan rumah semakin jauh
Di labuhan, tak lagi ada sauh
Kepada tanah yang melahirkan,
kita tak lagi ramah
Ibu tak lagi mengenal anak
karena anak telah menyangkal bunda sejak lama

Kita ini siapa,
sebenar-benarnya,
sesungguh-sungguhnya?

-Salatiga, Lama.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s