Spokenwords #3

Untuk apa aku di sini?
Untuk apa berdiri sambil menghadap mikrofon
yang memancang di atas tumpukan papan dan kerangka besi?
Untuk apa aku berseru melawan angin, menantang langit
Sementara untuk masuk televisi, harus bertarung sengit?
Sementara tiap tahun orang – orang muda masuk ke dalam antrian
Antrian beribu manusia berbakat demi sinar lampu studio dan kontrak pendapatan
Antrian beribu manusia berbakat
Antrian beribu manusia yang berpikir dirinya berbakat
Antrian beribu manusia yang percaya bahwa bakat harus disejajarkan dengan durasi tampil di layar kaca dalam topeng – topeng tanpa cacat
Yang dihantarkan ke segala penjuru dunia lewat jaringan kawat
Demi kesempatan untuk menjadi bintang tamu di acara Dahsyat
Demi kuasa, ketenaran dan terangkatnya tahta martabat

Berapa ribu manusia yang berbakat?

Sehingga pada suatu waktu harus diputuskan lewat akumulasi sms yang mencukupi,
yang diperjuangkan demi eksistensi di layar resolusi tinggi
yang tak lain dari momentum evolusi menjadi totem imitasi
Menjadi agen-agen korporasi pemicu naluri untuk mengkonsumsi
Sebuah janin baru bernama Public figure,
Figur yang menjadi titik perpotongan semua mata manusia jelata
Boneka kayu yang setiap langkahnya menjadi berita
dan cerita ada di puncak rating setelah ditambah bumbu derita
Berapa banyak yang berbakat?
Berapa banyak yang menyerahkan dirinya menjadi ikan di dalam tambak?
Menjadi sasaran tembak, infotainment dan isu film porno amatir yang nantinya merebak?
Berapa banyak yang berbakat?

Atau mungkin aku salah mengajukan tanya,
Berapa banyak yang mau menjadi menara gading penerima sorotan lensa dan kilasan cahaya blitz kamera?

Sampai timbul tanya baru, dimana kini bakat berada?
Sementara di televisi hanya sandiwara
Sandiwara jumlah ‘Viewer’ di Youtube
Sandiwara model-model iklan yang bahagia memiliki apartemen, kulit mulus dan gadget-gadget yang rasanya tak pernah cukup
Sandiwara selebriti yang menghantarkan sensasi demi menangkal pendaran ketenaran yang mulai redup
Sandiwara pejabat korup dan presiden merangkap komposer empat album yang takut di-kup
Sandiwara pencarian bakat yang terdengar gaungnya sebentar lalu hilang tertutup kabut
Dan, sandiwara kita yang dengan khusyuk menonton sampai mata enggan tertutup

***

Konon, Bakat jatuh dari surga
Diberikan Tuhan kepada manusia dengan percuma
Tanpa harga yang harus dibayar
Tanpa prasyarat penakar
Sampai Bakat datang ke sana,
Mengambil nomor antrian lalu diperhadapkan dengan tiga atau lebih manusia,
Dan jutaan pasang mata
Menanti dan memaki
Dari ujung rambut sampai ujung kaki
Ditelanjangi,
Ditelanjangi oleh komentar – komentar dari para ahli
Para ahli yang berpikir bahwa Bakat perlu direvisi
Yang tak lain adalah demi kelangsungan alur kompetisi
Dan iming – iming mimpi tuk’ jadi bagian dari promosi
Promosi produk yang mensponsori
Lalu Bakat tertegun di sana tanpa kata
Dia telanjang sepenuhnya
Diperawani dengan beringas
Sehingga tak lagi rancak dan hilang paras
Menembus batas dan aras
Malu,
Dia malu karena dinista dari mata hingga ke ulu.

Untuk apa aku di sini?
Agar kau tahu, mengapa mereka kaya dan seniman lapar melulu.

– Salatiga, pada ketika

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s