Fragment: Si Gila, Pagar, dan Kerikil. / Act X – End Scene

Setelah seabad lewat, -tanpa pernah mengucap kalah- demi ikrar atas perempuan yang dicintainya dengan sangat, Si Gila itu mati: Mampus dihantam badai dan amukan angin timur yang menghempaskan dirinya -dan rakit batang pohon sagu kering- sampai kemput.

Mereka yang sedang membenarkan jala dan tiang-tiang layar seketika berkerumun, menatap remah tubuhnya tenggelam perlahan di genangan merah-hitam amis darah.

Kemudian, setelah kematian dan jasad menjadi tak ada bedanya dengan pasir dan ombak bergulung, satu per satu mereka pulang dengan memikul tanya di dibalik tengkorak kepala mereka yang sempit itu dan bilik hati yang penuh terisi aroma laut; “Dialah yang waras, bukan kita.”

Salatiga, Lima belas Agustus Dua ribu tiga belas.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s