Pelataran

Selamat pagi orang-orang malam!

Selamat malam bulan pualam bulat jalang telanjang memampang di langit hitam yang tega menyangkal bintang

Selamat malam bapak penjual nasi goreng, yang terjaga semalam suntuk demi SPP si Budi yang tak kunjung berkurang; padahal harga minyak telah naik demi penyelamatan anggaran pendidikan sekarang

Selamat malam kepala yang pecah bersimbah darah setelah menembus marka dan garis batas kecepatan tertinggi, menyatukan aroma amis dengan semerbak bensin subsidi

Selamat malam kucing – kucing pasar, yang menunggu betina untuk kemudian berkawin – kawin: di pelataran atau di pojok ruko

Selamat malam kupu – kupu yang merangkak pulang; kecapaian setelah dikangkangi kontol – kontol yang mengeriput karena dingin namun mengembung setelahnya karena perut dompet kelebihan uang

Selamat malam diriku sendiri, bersama botol – botol bir dan asap tembakau di atas ibu bumi

Ibu bumi Pertiwi

Yang mengandung anak haram cukong – cukong luar negeri, Anak – anak bernama Freeport, Exxon, Chevron, dan Petronas.

Ibu pertiwi yang kulitnya memerah karena udara semakin panas

Sementara kilang-kilang minyak dan pengolahan emas tak henti-hentinya memuntahkan kepulan asap hitam lewat menara-menara corong dengan ganas

Selamat malam diriku sendiri, bersama botol – botol bir dan asap tembakau yang bersembunyi, di puting payudaramu, ibu: Sudut gemerlap bernama Lawson, Seven-Eleven, dan Circle K

Sementara tak jauh dari sana –di ketiaknya yang menghitam karena tak pernah disentuh deodoran- berjejer puluhan warung – warung penjaja rokok, yang cemas karena seringkali datang badai manusia berseragam coklat dengan bets Polisi Pamong Praja yang memberi pilihan untuk lengser, dibongkar, atau tetap berjongkok

Selamat malam nona – nona manis yang sumringah sambil menggenggam telepon pintar dengan racun – racun provider di papan reklame

Seakan – akan Blackberry, Android, dan iPhone sudah mendekatkan kita: satu sama lain. Sementara teleconference via Skype, Facebook, dan antah berantah lain tak jua menuntaskan rindu dan keinginan untuk bersetubuh sambil mengecup manis bibirmu! Sehingga, kedekatan – kedekatan palsu berubah jadi candu

Selamat malam diriku sendiri, yang rindu entah kepada apa

 

 

~Salatiga, Pelataran Pasar Raya, 23 Agustus 2013

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s