Spokenwords #4: Demi Banyak Perkara yang Harus Dirubuhkan

Malam makin tenggelam ke dalam pelimbahan

daun – daun ketapang telah jatuh tertidur

darah telah mengering di mata panah yang patah

dan tali busur telah berubah menjadi temali hutan para pertapa

Terlelaplah, anakku

bersama kisah – kisah para leluhur

legenda yang tak akan kunjung kabur seiring umur

kisah dan cerita

tentang Fanan dan Akwan sang penjaga (sang penjagal)

yang hidup sejak manusia Jargaria  masih berkecambah (dan ‘kan kekal-manunggal)

ribuan tahun-selamanya

tentang bulan dan matahari

tentang lautan dan bumi

tantang haru manusia Aru yang membiru

membiru lebam saat terjadi pasang gelombang haru menyesaki paru

tentang penyerangan  demi penyerangan yang dilakukan raksasa kukuh penggenggam palu

menjajah jejaki rumah cendrawasih, kakatua, dan kanguru

peluntur sumpah pada lembar wakat dan setiap wangi kayu gaharu

bersenjatakan perahu berlapis baja dan anjing – anjing berseragam yang serupa operasi Seroja

Setelah sebelumnya raja dan pengeran,

menjual petak – petak kediaman tempat kami berpijak

tanpa kami tahu sebelum

lewat perjanjian serta baju kebesaran yang tak pernah lupa dilabur parfum

demi prestasi dan prestise menanjak

demi mendongkrak nilai-nilai ekonomi dalam laporan keuangan tahunan dan keseimbangan neraca berkarat

demi kilau piring – piring perak

demi berlian dan manik-manik plastik

dan demi sepuhan emas dan gemerlap keramik

raja durhaka dan pangeran durjana yang mengira telah menguasa kosmik

yang dikumandangkan dalam bahasa – bahasa penaklukan bernama Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Sehingga hutan dan bakau harus dikafan dan tanah harus dijarah

Raja-punggawa yang menjilat kaki penguasa Jawa

kemudian rela meratakan tanah Aru dan menggantinya dengan pondasi menara baru

menara berkepala mata api

mata api yang meratakan setiap pohon dan manusia dari rimba hingga tepi

melenyapkan yang hidup juga yang mati

menggelapkan yang pikuk sampai duka yang pati

raja – raja dan punggawa bernama: Tengko, Karel, dan Bambang

wajah – wajah pandawa yang membawa panji dan lambang

yang lupa bahwa Fanan tak pernah gamang menatap matari di mega

dan

Akwan yang tak pernah bimbang memeluk rembulan di jingga

yang mengalir dalam darah setiap anak – pianak Aru

yang tak mundur sekalipun peluru memburu

dan menebus darah demi menghadang seteru

hingga  lelah yang dikerah menetes penghabisan

sekalipun lanun menggiring pejal ajal-kukuh enggan direbut karena ini warisan

warisan para tetua, turun-temurun

jauh sebelum sejarah tentang negeri di tengah gurun.

Semangat takkan pernah luntur sekalipun yang memancar adalah segar amis darah merah marun

kepalan perlawanan yang takkan pernah turun

dan

kepakkan amarah pahlawan Aru akan tetap merimbun

menimbun satu per satu

seperti daun – daun sagu dan tunas bambu

seperti hilangnya tari cendrawasih dan gugur bulu Kakatua hitam raja dan ratu

berkumpul dan melawan meski hanya bersenjatakan kayu dan batu

yang mata takkan pernah kuyu menusuk –menelusuk serentetan serdadu

serdadu berbalut warna loreng putih-abu-dan biru

yang mengawal alat – alat pembunuh sejarah dan asal-muasal

yang menggenggam bedil asalkan persetujuan pembayaran resmi dirapal

dan derap mesin – mesin penggusur tiang  rimba yang bagi mereka telah kumal

yang merubah figur perwakilan menjadi aktor kriminal

Dan sekalipun nyawa harus dibayar sebagai penebusan

menara kali ini dan kemudian harus diratakan hingga penghabisan

agar pengkhianat – pengkhianat kini:

Susilo, Karel dan Theddy

manusia sosok sejati pahit buah khuldi,

Pendosa dari sum-sum hingga nadi,

harus tahu:

Bahwa Aru adalah pemeluk sejati preambule

Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa

Dan Aru bukanlah sekedar nama

tetapi tempat bersemayam gelora jiwa dari defenisi tentang apa sesungguhnya merdeka

melebihi semangat deret kepala negara-bahkan ayahanda Mega!

yang menolak takluk kepada pemilik modal

yang mengganti kayu menjadi tebu dengan manipulan sertifikasi AMDAL yang berujung fatal,

berakhir dalam banal-menjemput ajal di dalam kanal

yang mengantong pundi – pundi demi janji – janji kuasa

di bawah naungan partai politik dan keberlangsungan regenerasi penguasa

dan akan mengingkar sejarah verbal yeng berwujud tajam mata baji-instruksi gergaji

kepala dan kaki,

kepalan melawan hierarki yang dilindung prajurit ber-khaki

Aru!

Aru takkan pernah luruh jadi abu

adalah keterbelakangan metropolis-sentris yang ‘kan maju sebagai pembaharu

yang menyalakan kobar perlawanan di setiap penjuru

dan perwujudan ketakjuban puisi dan lagu:

Mereka ke sana, meratakan manusia dan hutan serta isinya untuk diganti ruas-ruas tebu demi teori pertumbuhan ekonomi dan prediksi-prediksi moneter kuartal kesekian,

alokasi ketahanan pangan yang tak lebih dari muslihat manusia sebagian.

Dan ketika tanah-tanah adat dijadikan lokalisasi bagi pemuasan birahi korporat,

maka sumpah setia kepada negara harus tamat.

 Ketika penjilat-penjilat itu datang, hadang dan hidang dgn ajal;

bersamaan dengan runtuhnya menara yg dibangun dari loba dan tuba

hingga dinding tubuh Merbau berbau amis dan hutan-hutan bertelaga darah tengik merah kesumba!

(So everytime they come and try to break our bone

We will rise and straight up to fight

even with stick and stone

to collide those pricks on throne)

***

Malam telah makin tenggelam ke dalam pelimbahan

daun – daun ketapang telah jatuh tertidur

dan darah telah mengering di mata panah yang tak pernah patah

tali busur telah berubah menjadi temali hutan para selama pertapa

Terlelaplah, anakku

bersama kisah – kisah para leluhur

legenda yang tak akan kunjung kabur bersama umur

kisah dan cerita

tentang Fanan dan Akwan si penjaga.

Matari telah bergelegak di timur mega.

Jaga,

Jaga,

Segera awas terjaga!

Salatiga-Jogjakarta-Salatiga, Oktober 2013

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s