Api

Ada perempuan berdarah api yang mencintai
percikan, bara, kobar, lidah – lidah nyala neraka
dia mencintai pijar-pijar hingga gelora yang berpendar
dari hingar – bingar hingga sisa tungku yang samar
dari unggun dikala, hingga kunang di kejauhan bianglala
dia menari
melompat – lompat di tengah telaga lahar
berjingkat – jingkat riang di atas sekam membelukar
Sampai suatu ketika,
bibir langit menganga, turun, menelan bumi
hujan tercurah
sekam bungkam
lahar memucat bulan badar
menggigil,
menggigil dia,
karena hujan terlalu dingin, api telah lama padam dipendam angin
Dia lupa,
musim berganti – ganti
kini pasang tirta menyirna yang dulunya nyala
Menggigil,
Menggigil dia,
Tapi tidak mati

Salatiga, Oktober 2013

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Api

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s