Perahu

Berjuta – juta tahun lamanya, bulan tak pernah mengeluh karena tak bisa bersatu dengan matari pada suatu malam yang sama.

Manusia menaklukkan alam beserta ketetapan dan hukum-hukumnya lewat perjanjian – perjanjian bernama pernikahan.  Dua orang manusia yang lahir dari rahim yang berbeda, pada berapa banyak waktu tak saling mengenal. Kemudian alam yang gagal menyatukan matari dan bulan menebus kesalahannya lewat jiwa – jiwa manusia dengan cinta. Apa itu pernikahan? Rasa – rasanya sama gelapnya dengan pertanyaan dan takaran – takaran akal manusia terhadap hal – hal yang kabur. Ada kalanya setiap perahu yang mengangkat sauh dan memilih untuk berlayar di tengah awan mendung dan ancaman beliung gemetaran di tengah gelombang pasang yang tak henti-hentinya menerkam tubir – tubir. Tetapi sungguh agungnya pernikahan itu, mungkin sama tinggi derajatnya dengan keberanian manusia untuk tetap bertahan hidup. Dua orang manusia yang bersepakat untuk menikah sesungguhnya tidak pernah tahu setinggi apa ombak akan menghantam haluan yang kan’ mengancam arah buritan. Tetapi cinta sesungguhnya adalah kata kerja. Sehingga bayangan – bayangan tentang ketakutan di kepala dan masa depan menjadi sirna. Sehingga gelombang dan amukan laut hanya menjadi pertanda bagi keduanya untuk tak lupa bahwa masing – masing mereka tak sendirian. Karena waktu dan cinta sesungguhnya adalah kekekalan yang menudungi tubuh manusia yang tidak.

Pernikahan kemudian menjadi menakutkan bagi sebagian orang pada sebagian waktu. Akan tetapi menjadi kebahagiaan bagi sebagian lain. Katanya, manusia ingin hidup abadi. Sesuatu hal yang tak mungkin terpenuhi-bahkan dalam mimpi terliar manusia sekalipun. Lalu kemudian sepasang manusia menikah, mengandung anak untuk meneruskan cerita, nama, dan agama. Sehingga dalam pertemuan dua bilah kehidupan menghidupkan yang satu itu sepanjang-selama.

Alam yang gagal menyatukan matari dan bulan menebus kesalahannya lewat jiwa – jiwa manusia dengan cinta.

 

 

November 2013: Kepada Kak Kikah yang menikah karena memilih percaya ketimbang takut. Maaf karena tak sempat ada, semoga doa sungguh berdaya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Perahu

  1. Intan Rasyid says:

    buset banget ini tulisan. bikin saya jatuh cinta pada barisan pertama. boleh tidak, bberapa kalimat di sini saya copas buat undangan pernikahan saya kelak?

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s