Tanpa Nama

Ya tuhan, tuhanku

kesendirian adalah palung laut yang membiru dalam cekungnya yang kaku beku

betapa menusia – manusia berebutan dalam wujud yang sementara,

dalam rentang umur yang menyembunyikan usia

sehingga kesementaraan menjadi sama bekunya dengan lekuk topeng – topeng keniscayaan

manusia mengabadikan dirinya lewat romansa dan cinta yang berakhir pada batu nisan dan warisan tulisan

betapa fana-nya kita.

Darah menggelegak,

seumpama lapar gagak yang menelusuk kekerasan kalbu sekawanan khayalak

sehingga di setiap ketiadaan yang berpenghujung,

kulumat bibirMu yang dilabur kasih bersekejur merah marun.

~Salatiga, pada suatu ketika.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s