Tanah

Ranjang ter yang hampir rubuh dimakan karat akar – akar pepohonan telah lama menanggung beban tubuh itu telah bergemerisik sejak tadi. Tubuh manusia yang terbaring atasnya  gemetaran. Tak ada siapapun yang berdiri di sampingnya selain malaikat maut yang tak sabar mencabut keluar nyawa dari raga fana yang hampir remuk dilahap panas aspal jalanan di saat terik matari membakar gelora dan amarah. Manusia itu sendiri. Jauh rumahnya dari jangkauan jenjang panjang kakinya maupun batas ingatan – ingatannya.

Lalu malaikat maut yang sudah menunggu sejak satu puluh menit lalu itu semakin tak sabar untuk segera menyelesaikan tugasnya yang mulia.

“Cepatlah, aku akan kecapaian jika harus menunggumu menghentikan nafas.”

Tubuh itu menggelepar.

Mengais sisa – sisa udara yang menggantung di setiap jeruji bilik pesakitan untuk masuk ke dalam dua rongga hidungnya. Katanya dalam hati, lewat mulut yang tak mampu lagi untuk menggumam, “Bolehkah aku meminta untuk kali yang penghabisan?”

“Iya, cepatlah, lututku sudah capai berdiri dan menunggu.”

“Aku ingin ke surga”

“Baiklah jika.”

Seketika, angin berhembus pelan dalam penghabisan melewati bibirnya yang membiru kekurangan. Pembuluh – pembuluh darah telah berhenti bekerja dan otak telah melampiaskan memori – memori yang terlintas dalam kejapan cahaya tentang masa lalu. Tubuh sekarat itu mengejang, semua daya upaya dilakukan demi nafas dan penghidupan. Dia sekarat. Tangannya mengepal dengan sangat, gigi bergemelutuk dalam bergulat dengan kemungkinan bertahan dalam raga sesosok. Matanya hampir sembab, luka dihantam godam juang kelanjutan dan penghidupan. Mata air mengapung di sudut hitam matanya yang hampir menjadi telaga darah setelah dengan segarnya menyeruak memecah kepala yang dihantam jalanan dan debu, kenistaan dan abu, keridlaan dan tabu.

Memutih sekejap mata, mendongak segenap jiwa. Dia, terangkat ke surga baka.

Sepi, sepi. Hening dalam bening dan keramik marmer kaku enggan bergeming.

Putih benar dalam benaknya. Tiada pernah kulihat tempat yang macam ini sebelumnya. Mata air menerobos titik cekungan di beberapa sudut. Burung – burung kolibri dan cincin capeu berenang di udara dengan cemas tiada. Betapa tenang, betapa riuhnya tenang. Tiang – tiang yang entah menyangga apa tak sekejap jua meminta jeda di setiap sudut ruang yang serupa dermaga tanpa nama. Di penghujung mata, ada sosok manusia tiada berkelamin, telanjang penuh dari ujung rambut hingga kaki menengadah membelakangi.  Tinggi besar, mungkin dua atau tiga kali tingginya ia.

Lalu sekejap, memaling mukalah dia yang tiada berkain lajur satu itu padanya,

“Datang juga kau.”

Manusia baru itu mematung. Dilihat lagi tubuhnya yang kini bersih tiada noda, bagai domba yang baru selesai disepih tanpa cacat cela.

“Dimana kini aku?”

“Di mana yang kau pinta di kala nafasmu memburu pada penghabisan.”

Disadarinyalah ia kini. Nirwana memang benar adanya. Putih bersih. Segalanya bening hampir menembus segala pelimbahan tempat jatuhnya mata.  Tiada malaikat satupun, tiada bunyi sangkakala dan lagu pujian yang mengalun macam dalam gambaran kitab – kitab tua.

“Kenapa di sini sepi?”

Dan sosok itu tak jua meleburkan bibirnya yang terkatup, kelu oleh suatu apa yang tiada dimengerti. Batinnya ramai kini dengan suara – suara dan firman. Lalu itu mulai berbicara dalam bahasa yang tak satu manusiapun pernah temui.

Benaknya hampir terbakar oleh api dan kesenangan yang bisu bahasa.

Dalam waktu yang entah pada batas dan takaran, mereka bercakap dengan intim. Lewat derai batin dan seluk bayangan serta halus lembut gemulai daun – daun zaitun waktu.

Menangislah Ia. Menangislah dengan jumawa Dia yang oleh sebagian besar laskar dan bala disebut Allah Semesta Alam. Menangislah ia dengan menjadi – jadi, seumpama anak bungsu yang ditinggal mati ibundanya sendiri. Meraung dan meratap dalam kesedihan yang amat sangat. Yang melengking tajam hingga dapat meremukkan tulang – belulang.

“Aku kesepian.”

Dia, dia Allah semesta alam dalam keagungannya yang dihadistkan dalam berbagai macam agama dan rupa itu bersuara pada pengakhiran.

Lalu, jiwa manusia mati itu melihat sekeliling.  Tiada apapun jua yang sampai di sana. Tiada nyanyian dan ayat – ayat surga yang selama ini dihembuskan Ulama – ulama dan gerombolan pendeta. Tiada terdengar nyanyian serta doa, tiada bunyi kecapi-rebana. Tiada, tiada satupun di sini. Hingga disadarinyalah ia kini, telah tersesat kita selama berabad – abad lamanya. Dan Allah Semesta Alam yang telah menjadi alasan setiap perang dan kebencian, yang menjadi sekat dan harga darah ditumpahkan itu sekarat. Sekarat dalam kesepian yang tiada duanya. Dalam. Dalam dan sesak atas segala duka dan durja atas durjana.

Makhluk mati itu, matanya menatap kembali kepada sosok tiada bertutupkan selembar sutra, yang hampir remuk wajahnya dihantam gelombang tangis dan ratap.

“Ya Allah, Kami di mana?”

~Salatiga, Desember 2013

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s