Kidung Absurd

Aku berjalan sambil sesekali menendang kerikil bercampur debu yang terhampar di bawah kaki. Kedua tangan kusembunyikan ke dalam saku jaket hitam pudar warna yang dikeroposi deterjen dan waktu. Tak lama kemudian, tibalah aku di depan toko kelontong dengan model 1900-an. Bisa dilihat dari beranda yang tak luas dan tiang-tiangnya, dinding – dinding setengah papan yang tak luput dari bungkusan cat minyak berwarna krem -seperti baru dicat ulang sebulan lalu- serta jendelanya yang kukuh dikawal terali – terali besi, pipa menjulur dari pojok – pojok atap lantai dua menuruni lekukan tubuh gedung ini, yang nantinya akan menyemburkan air hujan setelah lama menggenang di tiris. Setengah bagian agak ke belakang, menyembul beranda lantai dua yang dipagari palang – palang kayu dengan satu-dua tiang menyentuh langit-langit, motif-motif kabur timbul dari kaca jendelanya yang besar-besar, memakan hampir seluruh wajah teratas dari bangunan asing itu. Hasil kombinasi asal-jadi percampuran arsitektur Cina dan Belanda awal abad 20. Di dalamnya terdapat tumpukan karung berisi beras berbagai rupa, kacang merah, almari kaca berkerangka kayu yang berisi tetek – bengek  kebutuhan dapur, satu etalase besar berisi dus – dus rokok yang belum pernah kulihat di pasaran sekarang ini –mungkin ada beberapa rokok klobot dan papir yang menumpuk di dalam plastik di pojokan-

Aku berdiri sambil membelakangi pintu masuk, tepat di bibir beranda, sambil bersandar di salah satu tiang yang menyangga atap bertudung lembar seng warna – warni. Sesekali aku melemparkan pandangan pada tetumbuhan yang bertugas sebagai pupur bagi wajah toko. Beberapa pucuknya yang hijau berkelit di antara jejeran pagar kayu seadanya,tampak seperti prajurit – prajurit kerdil penjaga istana dari kemungkinan serbuan oleh tembok tinggi berlabur kapur di seberang jalan. Tak lama kemudian, Perempuan Itu melangkah keluar dari dalam. Di tangannya tergenggam sekotak teh yang sedotannya diapit oleh lekuk bibirnya yang agak menghitam. Dia menatap sejenak ke kejauhan jalanan   –dia tahu benar aku sedang melihatnya-  Sinar matahari sore musim panas membasahi tubuhnya yang kecoklatan karena sering bermandi terik tropis, keringat menyusup malu – malu keluar dari setiap sudut kulitnya lalu terperangkap di selasar anak – anak rambut halus yang menguntai turun. Baju hangat hitam yang dia kenakan terlihat seperti baru, tak ada tanda – tanda luntur akibat keliru dicuci. Bau sabun masih menempel di sana. Rok selutut berwarna putih bercampur motif rorschach (yang di beberapa tempat justru tidak simetris) yang ia kenakan melambai – lambai tak bisa diam, mengikuti ayunan kakinya yang sepertinya menolak untuk itu. Dia seperti seorang balerina yang mau melakukan pemanasan dengan berputar – putar kecil. Seperti anak perempuan yang girang bermain di bawah guyuran hujan awal Desember. Dua katup mulutnya menggumamkan kalimat kepada angin, “Sok keren, Ayo.” Tanpa suara, hanya gumam. Tak lebih.

Dia berjalan di depan, aku sendiri berjalan sekitar lima langkah di belakangnya. Kita berjalan berjejer menjauhi toko ke arah timur. Menapakai jalanan berdebu yang meraung-raung meminta hujan. Sampai di salah satu lorong di sebelah kanan jalan, dia berbelok.Aku masih terus mengikuti ke mana langkah kakinya menuntunku. Seakan – akan, aku di bawah pengaruh sihir. Dia tak berkata – kata lebih, hanya tertawa sesekali sambil mendongak dan melihat langit sore yang disepuh awan acak kadut, dia juga tahu aku mengikuti dia dari belakang sesuai yang dia ‘perintahkan’. Sampai di ujung jalan setapak, dia masuk ke halaman rumah berwana oranye dengan pagar – pagar yang dibuat dari beton setinggi pinggang. Ada tumbuhan menjalar di hampir setiap tempat. Ada bangku papan yang pucat dimakan terik dan hujan berganti – ganti. Kaca – kaca jendela terlihat mengkilap karena rajin dibersihkan. Di balik kaca – kaca itu, seisi rumah bertudung gordyn putih tipis berjaring – jaring. Kusen – kusen berwarna biru langit yang juga tak mau kalah dengan kaca yang disangga. Halaman ini cukup kecil, begitu pula dengan rumah yang berlindung di situ, tingginya hanya beberapa jengkal dari ubun. Aku menunggu di gerbang, sedangkan dia mengetok pintu. Tak berapa lama, pintu terbuka, dia menatapku, menggerakan kepala -menandakan ajakan untuk ikut masuk ke dalam. Aku mengikuti isyaratnya,  melangkah memasuki halaman rumah sambil bertiti pada tapak beton menuju depan pintu. Sampai di sana, aku menatap ke dalam, hanya ada kakak lelakinya duduk di kursi kayu yang membelakangi pintu masuk, menghadap langsung ke arah televisi. Dia tak berpaling sedikitpun, seakan – akan tidak ada aku di situ.

Aku melangkah masuk dan mendapati Perempuan Itu telah duduk di kursi ruang tamu. Kursi bersandar dengan rangka besi yang di beberapa tempat terlihat berkarat, dibungkus kulit imitasi kualitas rendah berwarna coklat yang sering bisa kita jumpai di pelbagai ruang tamu rumah orang kelas menengah di pertengahan tahun tujuh puluh sampai delapan puluhan. Aku lalu duduk tepat disampingnya yang sudah lebih dulu. Kami berdua hanya diam, sambil sesekali aku menatap gelas putih berisi teh di atas meja di depan kami -entah darimana datangnya gelas dan teh yang berkepulan asap itu. Sedangkan dia, Perempuan Itu, matanya tetap tertuju pada lututnya sendiri. Dia duduk sambil menyilangkan kakinya, kanan atas kiri, sambil jari telunjuk mengelus – elus lututnya. Aku hanya duduk seperti biasa, tak bersandar. Ada rasa gugup dan senang bercampur baur. Kita dekat sekali. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya, aroma – aroma menguap dengan tanpa rasa malu keluar dari kulitnya yang kecoklatan dan langsung menerobos hidung.

(Diam)

Dia tak sedikitpun mengalihkan pandangan.

Sedangkan aku, tak henti – hentinya tersesat: Pada anak – anak rambutnya yang berlarian turun seperti naga – naga tua yang tunggang langgang setelah kalah dalam perang melawan manusia pada kisah – kisah Nordik, lalu kemudian bersembunyi dan gemetar di balik telinga sebelah kanannya karena mendapat malu. Pada yang tak jauh dari dari situ;Berlaksa-laksa hitam rambut bersekongkol untuk menutupi hampir setengah wajahnya, melintasi koloni alis dan bermuara pada telaga pundak, seperti kiswah bermeterai kaligrafi yang menyelubungi keindahan, misteri, dan zat ilahi dalam sekali pukul. Pada padang kulit lengannya, pada geligi yang ingin ikut dalam pemberontakan raga atas penciptanya:Tampil sebagai Marianne yang berapi-api ingin membunuh Delacroix; Hanya saja, kanvas disematkan pada sekujur tubuhnya. Pada pelipisnya yang penuh: seperti putri tidur yang meminta untuk dicium lekas-lekas, terburu-buru oleh karena rasa takut dan gentar akan kemungkinan demi kemungkinan. Pada raut – raut halus di sudut mata yang menggoreskan kisah – kisah dan letih.Dosa-dosa malam atas perjuangan dan lara yang berdiam pada satu musim, lalu kemudian pergi pada musim yang lain. Pada semenanjung – semenanjung yang terbentuk pada penghabisan alisnya: yang menyesatkan kapal – kapal dagang dengan amukan beliung atau pusaran di tapal batas antara daratan dan samudra raya. Pada bola matanya yang bertudung lidah api Olympus; bergelora, menyala – nyala seperti ingin menelan seantero bumi bulat – bulat.Tetapi lidah – lidah api itu membekukan apa saja yang dilaluinya: kulminasi segala kalam tuhan yang turun atas perempuan ini.

(Aku tak bisa keluar dari sana, seperti terperangkap pada semua-mua itu. Seolah dimainkan ombak dan gelombang dengan sesuka. Sedangkan dia memfirmankan mantra-mantra lewat sekerat sungging yang menaklukan berjuta purnama lewat sudut bibirnya.)

~ Dokumentasi mimpi: Januari, 2014

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Kidung Absurd

  1. Ms.Sadrie says:

    Tahukah arti sekerat sungging yang terbentuk tanpa suara, tanpa kata?

    Itu bukan sekedar mantra yang dilafaskan.

    Itu pertanda, yang indah hanya ada di mimpi.🙂

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s