Satu

Nusa Kambangan, 1 Februari 1996

Kepada Ami,

Pertama dan lebih dari apapun- yang terutama- Maafkan aku yang tanpa kabar berita lenyap seperti ditelan bumi. Di mana kini aku berada, adalah keterasingan. Di selatan laut jawa yang sepi dan mencekam. Hari – hari di sini seperti neraka. Neraka yang tembok – tembok batunya merendamkan setiap pergolakan. Siksaan adalah tebusan bagi setiap jiwa – jiwa yang melawan. Keheningan dan deru ombak yang menyapu nyala api dan kobaran revolusi. Pulau yang menyimpan keindahan dan misteri, yang menghisap tekad perlahan-lahan.

Setelah malam ketika aku meninggalkanmu di rumah dan bertolak menuju Surabaya untuk menghadiri pertemuan itu, aku bahkan tidak banyak menitipkan kata padamu yang ada di antara lelap dan terjaga.

Pagi itu, seperti yang sudah kau ketahui; acara pertemuan kami didatangi ratusan aparat. Entah dari mana mereka mengetahui tentang rencana rapat diam – diam ini. Ruang rapat diobrak – abrik, bendera dan berkas – berkas dirampas. Kami berusaha lari tapi jumlah tentara terlalu banyak yang menghadang. Semua yang hadir pada saat itu dibawa dengan truk. Kami tak tahu akan dibawa ke mana. Mata kami ditutup dengan kain. Truk membawa kami ke arah menjauhi kota. Beberapa dari kami diturunkan di tengah jalan, diperintahkan berjejer, lalu tak lama kemudian, suara letusan senapan berbunyi. Kami tak berani melawan. Hanya diam. Tak ada sedikitpun raungan dari mulut mereka yang baru saja menjemput ajal itu. Aku tidak tahu siapa saja yang dibunuh. Tapi itu tak hanya terjadi sekali, beberapa kali, di tempat – tempat yang berbeda.

Berjam –jam di dalam truk, terkadang kami berhenti di tengah jalan. Kami diberi minum sesekali-tanpa makan sedikitpun. Tangan kami diikat, mata ditutup membuat kemampuan untuk mengetahui keadaan sekitar semakin sulit. Baru pada keesokan harinya, aku tahu kalau kita sudah sampai di Cilacap. Aku dengar dari percakapan tentara-tentara yang membawa kami. Untuk seterusnya, aku dikirimkan ke tempat ini. Truk kemudian pergi dan membawa teman – teman yang lain entah ke mana. Belum jua kudengar kabar mereka hingga kini.

Di sini, aku diinterogasi berhari – hari. Diberi makan hanya sekali, dibumbui tinju, bentakan, dan ancaman. Setelah interogasi berhari – hari itu, barulah aku dikirim ke sel tahanan. Hingga akhirnya bisa kusempatkan menuliskan surat ini padamu.

Aku harap kamu baik – baik saja dan tetaplah begitu. Karena di sini, bagiku, setiap perlawanan nyaris sirna, tergantikan oleh satu tekad di kepala: aku harus tetap hidup dan pulang ke pangkuanmu, kembali.

 

Suamimu, Michael.

 

Surat balasannya ada di http://hunnamiraaah.tumblr.com/post/75349457287/dua

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s