Tiga

Nusa Kambangan, 15 Februari 1996

Kepada istriku Ami,

Maafkan aku, sayang, karena suratmu baru bisa kubalas sekarang. Hari – hari di sini berjalan begitu lambat. Sama lambatnya dengan kecemasan yang merayap pelan – pelan membawa kekhawatiran dan takut berlaksa – laksa. Seperti ombak yang tak lelah memagut bibir pantai di kejauhan pulau. Menantikan balasan surat darimu seolah menunggu bibit tembakau sampai siap dipanen. Hari terasa seperti tahun. Akan tetapi –baik yang kutahu- bahwa kamu dalam keadaan baik saja. Bagimana dengan Malang, bagaimana dengan rumah, dan bagaimana kehidupan dan pekerjaanmu?

Kamu tahu, bahwa bersuamikan seorang tahanan politik sepertiku sama sulitnya dengan berjalan pada titian yang membelah neraka. Sewaktu –waktu kita dapat terjungkal dan dihancurkan –hingga nama juga hilang dari setiap catatan dan cerita. Aku dan juga kau tak pernah inginkan hal ini terjadi. Tetapi, kalau bukan melawan, apa lagi yang bisa kita kisahkan bagi anak cucu kelak?

Kehidupan di sini begitu pelan. Selain dihadapkan dengan interogasi dan siksaan terus-menerus, ada pula kebun tembakau yang harus disirami: sebagai bagian dari rehabilitasi yang hasilnya kemudian ditilap oleh orang – orang birokrasi.

Entah siapa yang sudah membuka mulut mengenai persiapan Kongres Luar Biasa di Sleman nanti. Aku lebih sering di interogasi kini; Padahal semenjak penangkapan waktu itu, aku tak tahu – menahu mengenai keberadaan anggota yang lain. Tetapi interogator tak pernah mau tahu. Mereka hampir sama tak pedulinya dengan sipir – sipir yang mengurus jatah makan kami.

Aku harap, tak ada lagi berkas – berkas di rumah  yang dapat menyusahkanmu. Mungkin belum, tapi cepat atau lambat, tentara akan ke rumah untuk mencari apapun yang bisa memberatkan aku dan juga kamu. Kalau keadaan semakin genting, tinggalkan saja rumah. Pulang saja dulu ke tempat ibu, sampai keadaan benar – benar memungkinkan.

Terlebih dari semua hal yang sudah kutuliskan di atas;

Aku juga rindu padamu.

Di sini tak ada sayur asam, tak jua suaramu yang tak henti – henti mengomel kalau aku sudah terlalu membenamkan diri dengan urusan pergerakan, hingga lupa tidur dan makan. Bahwasanya benar, seringkali  aku marah dan jengkel dengan sifatmu yang satu itu. Tetapi di telingaku kini, semuanya itu tampak lebih merdu dibandingkan dengan erangan burung – burung laut, dengan suara angin yang menyapu sepanjang pantai hingga ke lembar-lembar rumput dan daun tembakau di pulau. Rindu memang terkadang dibentuk dari rasa sayang dan takut.

Sampai detik ini dan nanti, aku masih terus berdoa, semoga ketakutan tak cukup mampu untuk mendiamkan apa – apa.

 

 

Suamimu, Michael.

 

Surat sebelumnya, ada di http://hunnamiraaah.tumblr.com/post/75349457287/dua

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s