Lima

Nusa Kambangan, 2 Maret 1996

Kepada istriku Ami,

Hari lepas hari keadaan tidak semakin membaik. Tapi pasti yang kutahu, aku masih bisa dan semakin bisa bertahan. Malam yang dingin di sel rasanya semakin hangat. Padahal, angin yang membawa aroma garam laut tak pernah berubah parasnya. Mungkin benar adanya, kepedihan yang terus – menerus mendera manusia membuatnya semakin kuat; atau semakin terbiasa. Setidaknya, itu yang terasa kini, batas antara keduanya semakin samar bagiku.Terik siang yang membakar kulit telanjang para pesakitan di tengah ladang semakin terasa ramah. Terkadang, aku juga bekerja di bengkel, mengasah batu ali untuk kemudian dijual oleh pihak penjara sebagai buah tangan kepada pengunjung. Tetapi para pengunjung hanyalah pengunjung. Para pembesuk datang membawakan serentetan tanya tentang kabar dan bukan tentang keadilan atas manusia.

Tiga hari lalu, beberapa tahanan – termasuk aku di dalamnya- kita dikerahkan menuju mercusuar Cimiring,untuk ditugaskan membersihkan tempat itu. Perjalanan menuju mercusuar sangat berat. Kaki – kaki telanjang ini harus berdarah – darah diiris rumput dan semak.  Sekembalinya, kami disuruh memikul batang – batang kayu plahlar. Kayu yang katanya sama bagusnya dengan kayu Meranti di Kalimantan. Kau tahu, kemudian dikemanakan kayu – kayu itu? dijual oleh sipir – sipir bajingan itu secara diam-diam. Betapa kerakusan merasuk setiap manusia – manusia berseragam. Kejijikan yang bertahta di tengah sepotong pulau yang menyimpan keindahan. Tetapi, sekali waktu, aku ingin mengajakmu kemari. Melihat deru laut selatan yang mengiringi senja jatuh ke pelimbahan. Betapa merah dan sendunya senja yang menudungi kepala orang – orang malang!

Istriku Ami,

Berkas – berkas yang kuletakkan dengan sembarangan bolehlah kau bakar saja. Tetapi ada beberapa yang masih tersimpan di dalam map dengan cap Komite Pimpinan Kota, kalau bisa, selamatkan saja; kuburkan atau simpanlah di tempat yang kiranya tak bisa dijangkau. Untunglah, ketika ke Surabaya waktu itu untuk melapor ke KPW, ada beberapa lembar kertas – kertas penting yang masih belum aku sertakan dan masih tersimpan di rumah. Setidaknya itu adalah amunisi penting demi pergerakan PRD di Malang. Tetapi ingatlah, jika berkas – berkas yang kau bawa itu memberatkanmu, janganlah sungkan untuk membuangnya, memusnahkannya jika perlu. Karena kertas dan pemikiran – pemikiran akan tetap mengendap, sebagai kisah dan catatan.

Karena yang bisa melawan dan meneruskan cerita adalah manusia hidup, bukannya jasad yang bisu. Mengenai pekerjaanmu, kau sendiri tahu, bahwa suatu saat mungkin dalam waktu dekat, kabar tentangku akan juga sampai di situ. Dan sayangku, kau tahu pula, sekejap saja semuanya bisa dicabut dari kita. Apapun itu.

Apa kabar ibu? Sudah lama sejak kita terakhir mengunjunginya. Sudah hampir sebulan aku ditahan di sini dan hampir sebulan lebih aku menghilang tanpa kabar. Pergunjingan orang – orang tak mungkin bisa kita elakkan. Apalagi militer masih terus berkeliaran dengan bebas, mencuci kepala orang – orang dengan ketidak-benaran. Aku harap, segera setelah kamu menerima surat ini, tolong tinggalkan rumah. Bawa saja apa yang penting. Tinggalah dulu di tempat ibu.

 

 

 

Istriku Ami,

Aku, lelaki yang masih merindu perempuannya; Menembusi indahnya tubir – tubir karang yang melingkari Nusa Kambangan ini. Menerobos dinding dan pagar penjara, melewati semua pandangan dan sengkarutnya sejarah.

Aku, lelaki yang masih merindu perempuannya, dengan susah payah, dengan sepenuh hanya.

 

 

Suamimu, Michael.

 

Surat Sebelumnya: “Empat” bisa dibaca di sini: http://ow.ly/tg8nM

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s