Tujuh

Nusa Kambangan, 15 Maret 1996

Istriku Ami,

Betapa senang hatiku menerima surat darimu lagi. Setidaknya dengan datangnya suratmu, adalah pelipur barang sekedar atas semua yang terjadi di sini, di sana, dan di atas kita. Lembar – lembar suratmu bagikan simalakama; menyimpanlara dan gembira di setiap helainya. Betapa rindu yang menyala – nyala diam di dada seorang manusia yang saban hari dipaksa takluk.

Terkadang aku merasa, pintu penjara serasa begitu jauh dari hari ke hari, sayang.

Kemarin kudengar ada beberapa tahanan -yang semasa bebasnya dianggap subversif dan melawan orde baru- dari Kembang Kuning dibawa sipir keluar menuju pedalaman hutan. Namun kemudian, tak pernah didengar lagi kabar bahwa mereka kembali. Pembunuhan dan penyiksaan adalah hal biasa di sini. Semacam lakon komedi bagi para penindas. Segala hal bisa mereka ubah jadi senjata; entah pipa, selang, kursi atau batu. Lalu kemudian barang – barang itu dihantam ke kepala tahanan, setiap kali mereka merasa bosan.

Nusa Kambangan yang kata penduduk asli artinya Pulau Bunga – Bungaan, berubah seumpama sebuah dunia yang terpisah. Pulau penuh kembang yang merahnya dilabur darah dan akarnya merambat di atas tubuh manusia diam atau yang didiamkan. Anak – anak kecil berlari dan bermain di pantai dengan senang, tanpa mereka tahu, mereka lahir dengan berkalung rantai serta pasung tak kasat mata. Betapa nanti, aku tak ingin hal yang sama menimpa anak kita kelak, walaupun sampai kini kita belum memiliki satu jua dalam tahun – tahun pernikahan ini; menyimpan pijar kerinduan akan sosok-sosok manusia kecil yang lucu, yang ‘kan mewariskan nama dan nafas kedua orang tuanya.

Sayangku, Aku masih tetap percaya kepada pepatah Indian lama: “Kita tidak mewariskan bumi bagi anak cucu kita, kita meminjamnya dari mereka.” Anak – anak kita kelak, perempuanku, takkan hidup di bawah langithitam seperti apa yang bapak-ibunyatudungi kini.

Janganlah kau ragu, kekasihku, dian bagi gelap dadaku. Setiap kebenaran harus diperjuangkan dengan darah dan nyawa. Rasa – rasanya, dahulu, ketika kita berjanji untuk menikah; keadaan –keadaan pelik ini tak jadi bagian dari perjanjian yang dituliskan di akta. Namun, akhirnya aku tahu juga bahwa pernikahan bukanlah kesepakatan dua manusia untuk hidup bersama, tetapi perjanjian dua manusia untuk bersama menatap ketidak-tentuan hidup, lalu kemudian tenggelam di dalamnya.

Perempuanku Ami,

Apapun yang terjadi, selamatkanlah dirimu. Jagalah dirimu, jagalah dirimu baik – baik. Sebagaimana aku yang masih tetap hidup, dengan kamu sebagai api, dengan kamu sebagai nyanyi di cekung dada lelaki yang sunyi.

 

 

 

Suamimu, Michael.

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s