Sebelas

Nusa Kambangan, 14 April 1996

Istriku Ami,

Aku sudah menerima dan membaca suratmu yang dikirim tanggal 9 lalu. Dalam hatiku, aku senang. Ada bahagia kecil yang menyeruak saban kali mendengar bahwa kau dalam keadaan baik – baik saja. Di bilik yang lain, ada rasa cemburu dan pijar – pijar amarah; amarah pada diriku sendiri di kala keberadaanku padamu tiada. Semua bayangan tentang rumah mulai kabur, seumpama ilalang yang diam meninggi, mengaburkan peraduan dari pandangan. Betapa kerasnya aku kini yang berusaha menangkap lekuk – lekuk tubuhmu di dalam kepala  yang balakangan sering hilang tuju ini. Melemah bersama hantaman yang kuterima berkala.

Kerinduan semakin mengoyak dadaku kini, meredupkan cemas. Sehingga akupun sering bertanya – tanya, pada apa rindu ini berhulu; pada aku yang rindu padamu, ataukah aku yang rindu pada diriku sendiri: Yang tetap menolak untuk tunduk kepada kesewenang-wenangan, sembari di saat bersamaan mendekap tubuh jiwamu dengan kasih sayang yang tak terjamah oleh bahasa manusia.

Kondisi tubuhku mulai pulih. Untuk beberapa saat, aku dirawat dengan baik oleh dokter penjara di sini. Dari situ juga aku kemudian berkenalan dan bersahabat, Salahuddin namanya. Aku dirawat dengan baik, diperhatikan benar – benar. Sering aku bercerita dengannya dan menemukan betapa kebaikan manusia akan tetap hidup walau di dalam palung gelap neraka sekalipun. Dia sering menyemangatiku untuk tetap hidup, apapun caranya. Empati dan simpati akan perjuangan melawan ketidak-adilan menyala – nyala di dalam matanya yang hampa: dikosongkan kuasa, ditelan ketakutan atas kekejaman penguasa. Aku akan menceritakan tentangnya padamu di kali lain.

Istriku Ami,

Kalau – kalau aku pada akhirnya menyerah, itu bukan salah siapa-siapa. Manusia niscaya akan memilih kehidupan perih ketimbang kematian bermeteraikan panji – panji. Karena setiap kerinduan dan perlawanan akan berakhir pada satu muara yang sama: penerimaan.

Aku merindukanmu dalam mara bahaya, dalam jiwa yang berangsur takluk dan lelah menjadi medan perang bagi cinta dan benci. Takut dan gemetar.

 

 

Suamimu, Michael.

Surat sebelumnya bisa di baca di sini

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s