Tiga Belas

Nusa Kambangan, 1 Mei 1996

Istriku Ami,

Aku sudah membaca surat darimu lalu lekas kutuliskan balasan ini.  Suratmu kuterima di saat aku sedang duduk – duduk di bukit kecil –setelah setengah hari aku dan kawan yang lain turut bekerja untuk pembangunan desa di sekitar pulau- di luar penjara sambil menatap pulau Jawa di kejauhan, dimandikan cahaya sore dari matahari laut selatan yang penuh dendam entah kepada siapa. Angin meniup dengan setengah hati, seperti aliran air yang kelelahan di kala pucuk musim panas. Menatap Jawa di kejauhan; mungkin rasanya seperti pesakitan neraka jahanam yang lapar akan embun yang mengendap di dinding – dinding nirwana. Aku ingin menggambarkan rasa rindu ini dalam tulisan – tulisan yang baik adanya, namun apa daya, kini tanganku mulai lebih terampil menggenggam palu, cangkul, dan sabit tinimbang mempermaikan mata pena.

Jika saja aku diberi waktu barang setengah jam untuk berenang ke pulau seberang itu, akan kulakukan dengan segera. Angin, tanah, dan manusia di sini semakin hari semakin hangat. Ataukah aku yang semakin dingin dengan segala ini? Mendengar keluh kesahmu, dapatlah kufahami. Betapa sulitnya keadaanmu atas berjuta pilihan yang datang menghadang hidup hari demi hari. Tanpa aku mengerti, aku menuliskan kalimat barusan itu dengan tangan yang tanpa gemetar, tanpa remuk redam yang menyublimkan lara di sudut mata yang menghitam karena tidur yang tersita. Mungkin aku telah pipih luka dihantam godam penguasa? Bahkan semua berita tentang pergerakan dan perlawan mulai tak menarik perhatianku kini.

Dalam syadhu bunyi – bunyi rumput yang dibelai arus udara selatan ekuator, aku pikir, menukarkan kebebasan dengan keamanan adalah hal sia – sia, karena pada akhirnya, kita takkan mendapati keduanya.

Sipir pengantar surat yang wajahnya masam dan menyimpan dengki itu mau kembali ke pos penjagaan utama. Aku akan segera menitipkan surat ini padanya, agar segera dikirim kembali padamu.

Lalu, di tengah – tengah jiwa yang mulai beku ini, aku masih mampu berkata, “Aku sayang padamu, Ami, perempuanku, istriku sepenuh-penuhnya jiwa; Betapa rindu aku akan dekapan hangat, dengan canda dan amarah, dengan sepi dan ramai.”

Teruslah kabari keadaanmu, Ami.

 

 

Suamimu, Michael.

 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s