Lima Belas

Nusa Kambangan, 16 Mei 1996

Istriku Ami,

Empat hari telah berselang setelah ulang tahun pernikahan kita yang ke 5. Apa yang sedang kau buat pada saat itu, sayang? Aku menghidupi sore 12 Mei dengan merayakan keindahan masa lampau lewat geliat lidah api, yang melahap tumpukan ilalang kering di halaman belakang penjara bersama beberapa teman. Untuk kemudian,kepulan asapnya menguap lalu membawa segala macam memar perasaan dari setiap kami sebagai persembahan kepada langit sore yang lebam dipukul senja. Sore pertengahan Mei yang cerah tak bisa menghangatkan jiwa – jiwa yang hampir mati beku ini. Nyala matahari dan panas api tiada mengubah apa – apa. Masing – masing kami kelu sambil menatap api yang merubah helai-helai ilalang menjadi serpihan arang, membumbung ke atas lalu lenyap ditelan angin laut dan entah. Pemandangan sekawanan manusia yang redup. Tentang kobaran pemberontakan yang mulai terasa sia – sia seperti asap rokok yang dihembus keluar dari bibir-bibir yang hitam retak. Mungkin, ada di antara mereka ini yang bernasib yang sama denganku, merindukan perempuan yang perlahan – lahan mulai samar; mengabur bersama tujuan – tujuan hidup yang tenggelam. Mungkin pula, ada yang merindukan anak – anaknya: yang saban hari harus menghadapi intimidasi dan macam tuduhan di sekolah, mungkin.

Tapi, yang kutahu, kenangan dan ketakutan –bagi sebagian besar pesakitan- telah berubah menjadi bunga – bunga akal: datang, menari sebentar, menarik sekedar, kemudian pergi tanpa menyisakan apa-apa bagi perasaan. Mungkin penjara dan pengasingan sesungguhnya bukanlah kerangkeng raksasa, tetapi alat yang bisa merubah manusia menjadi mamalia. Walau sebenarnya, beberapa binatang masih bisa merasa sedih ketika menghadapi kehilangan.

Rasanya Aku ingin menjumpaimu dan Angga temanmu itu dengan perasaan yang jumpalitan. Ingin menghantam wajahnya dengan beratus – ratus tinju lalu menarikmu kembali, atau mungkin menghujaninya dengan berlaksa – laksa terima kasih karena bisa menjagamu di saat aku tidak.

Entah apa, tapi aku masih ingin merindukanmu dengan berbagai macam cara.

 

 

Suamimu, Michael.

 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s