Tujuh Belas

                Nusa Kambangan, 3 Juni 1996

 

Perempuanku Ami,

Kadang kala kita harus mengakui bahwa kita terlalu keras pada diri kita sendiri. Memang benar adanya, menunggu adalah seperti malam berjudi tanpa tahu kapan datang pagi. Sewajarnya, kujur tubuhmu yang dingin disergap sepi meminta dekap di kala hujan terlalu deras turun di tengah terik musim panas. Seperti akupun di sini yang menghangatkan jiwaku  -yang hampir mati kering-  dengan aroma dinding – dinding sel: sebagai prasasti kekejaman dan putus asa atas manusia – manusia yang pernah menghabiskan ribuan jam menatap ke arahnya. Lalu kemudian menyisakan peninggalan lewat coretan dan pahatan kasar, sebagai artefak dan kata-kata terakhir seorang manusia, di kala ia masih seorang manusia. Dan manakala semua-mua itu mendingin dan tak acuh, yang tersisa hanya pembaringan dan surat-suratmu yang bersama lembab beradu tahan. Andaikata, kedua hal barusan tak lagi melerai amukan dalam batinku,  aku akan lari menuju tanjung, menganga matari hingga ia jatuh takluk di pelimbahan langit raya.

Pula ingin kuberitahukan, tiga hari setelah suratmu yang sebelumnya tiba, temanku:  Ali Ikhsan, teman sesama wartawan yang beberapa kali bertandang ke rumah dengan vespa butut biru langit. Bergaya ala Hippies dengan kombinasi warna pakaian yang tak keruanan. Sering membawakan bir dan jenaka ke dalam rumah kita itu, hingga akhirnya setelah dia pulang, pastilah aku yang akan kena marah darimu. Dia memberitahu tentang niatnya untuk mengangkat tulisan mengenai penangkapan aktivis dan orang-orang yang berafiliasi kepada partai oposisi yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Pekerjaannya kali ini mendapat sponsor dari luar negeri katanya, sekiranya dapat, dia ingin mengangkat tentangku juga untuk kemudian bisa diketahui oleh dunia internasional. Katanya pula, dia ingin mewawancaraimu. Semoga ini semua bisa membantuku dan juga tapol – tapol lain keluar dari keadaan yang sungguh pelik ini. Semoga.

Perempuanku Ami,

Sebelum tanganku semakin kaku dan tak tertahankan untuk menggoreskan apa-apa di dinding sel yang setiap waktu menatapku dengan dingin ini: laut selatan yang memanggil – manggil jiwa untuk tenggelam dalam keheningan baka bersamanya. Kiranya penciumanku masih bisa mengecap harum rambutmu dan mataku masih akan mengendapkan persona tentangmu kepada kepala yang mulai membatu.

 

 

Suamimu, Michael.

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s