Sembilan Belas

Nusa Kambangan, 18 Juni 1996

Istriku Ami,

Sekali waktu, Ali sudah datang ke sini, dia menanyakan segala hal tentang perlakuan yang kuterima selama di penjara. Aku menceritakan semua padanya. Pada lain kesempatan, dia akan datang bersama orang asing yang juga mau mendokumentasikan keadaan di sini. Namun, aku tak terlalu yakin, bukan pada Ali, bukan. Tetapi betapa ketatnya pengamanan. Mengingat penjara ini benar – benar diperhatikan oleh otoritas, maka hal – hal yang mengancam, tentu saja akan sebisa mungkin dicekal. Walaupun,  sudah kukatakan pada Ali, bahwa beberapa sipir bisa disuap, walau tak bisa dipungkiri bahwa ancaman hukuman dan tuduhan komunis tentunya akan menyiutkan keberanian mereka. Akan tetapi, Ami, perempuanku, aku akan berusaha sebisaku untuk keluar dari sini. Mungkin kehidupanmu dan orang – orang lain di luar sana yang tenang dan aman di bawah kendali pemerintah, telah berhasil mendiamkan nyali. Tetapi sesungguhnya kehidupan di sini, di kala hidup dan mati hanya terpisah sehelai kebenaran tipis, kita akan melawan sebisa – bisanya. Walaupun kemudian, hidup menjadi perpanjangan tangan bagi tragedi yang mengurapi kepala manusia – manusia terkutuk di tengah kawanan.

Istriku Ami,

Setiap kali aku membaca suratmu dan mendapati nama Angga di sana, ada cemburu yang menyeruak dengan semena – mena. Mendatangkan gelombang amarah dan prahara yang begitu banyaknya. Betapa aku bersyukur kepada Tuhan setiap kali aku cemburu, karena dengan itu, aku masih mengenal hatiku sendiri yang mencintai kamu. Aku ingin memberikan janji  dan harapan manis tentang kembalinya aku, tetapi janji dan harapan adalah rancangan – rancangan terbaik yang manusia buat di dalam dunia yang tak pernah lelah untuk membangun dan merombak di setiap detiknya.

Di sel, aku memelihara kaktus pada pot kecil yang kutaruh di terali tempat matahari masuk. Kaktus pemberian dokter Salahuddin ketika sekali waktu, aku membantunya membersihkan klinik: klinik saksi atas klenik kediktatoran Orde Baru. Kaktus hijau sekarat yang selalu mengingatkanku untuk tetap menjadi manusia waras; bahwa seredup dan seburuk apapun bumi, manusia harus tetap hidup dengan apa yang ada pada dirinya.

Dan sampai detik ini, aku masih saja menuliskan surat padamu. Kau yang mulai menyublim bersama harapan – harapan yang retak dan nyali yang lancung.

 

 

Suamimu, Michael.

 

 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s